PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Tag Archives: Rifan Financindo

Sepi Sentimen, Harga Emas Menguat Tipis

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas menguat tipis dan akhiri penurunan dalam tiga sesi. Secara teknikal, harga emas menghindari wilayah koreksi.

Harga emas untuk pengiriman Agustus naik 60 sen atau kurang dari 0,1 persen ke posisi USD 1.227,90 per ounce. Sebelumnya harga emas sentuh level terendah USD 1.220,90. Harga emas sudah turun 9,9 persen sejak berada di level tertinggi USD 1.362,90 per ounce sejak 15 Januari 2018.

Sebagian besar emas tertekan didorong dolar AS menguat sehingga bebani harga komoditas dalam mata uang. Indeks dolar AS naik 0,1 persen ke posisi 95,09. Namun, indeks dolar AS itu dekati level terendah 94,96. Harga emas sudah naik 3,2 persen sepanjang tahun berjalan 2018.

Pergerakan harga emas seperti abaikan kekhawatiran perang dagang. Seharusnya sentimen kekhawatiran perang dagang dapat memberikan dukungan untuk harga emas seiring sebagai aset relatif aman di tengah tekanan geopolitik.

“Saya tidak percaya perang dagang menjadi masalah dominan untuk emas dan dolar AS. Keduanya, saya yakin masih terjebak dalam sindrom yang didikte oleh kebijakan suku bunga dovish, sementara AS terus menaikkan suku bunga. Itu semua bisa berubah, jika tingkat inflasi mulai konsisten lebih tinggi dari pada suku bunga,” ujar Michael Kosares, Pendiri USAGold, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (19/7/2018).

Komentar dari Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve Jerome Powell selama kesaksian kongres menyiratkan harga emas mungkin kembali tertekan.

Powell menekankan kenaikan suku bunga masih sesuai jalur. The Federal prediksi menaikkan suku bunga lagi sebanyak dua kali pada 2018. Hal itu dapat mendorong kenaikan dolar AS dan imbal hasil pendapatan tetap seperti imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun yang naik ke posisi 2,87 persen. Rifanfinancindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Tergelincir Pidato Gubernur Bank Sentral AS

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Harga emas gagal melanjutkan reli pada perdagangan Selasa. Harga emas tergelincir kembali ke bawah USD 1.240 usai Gubernur Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell mengeluarkan pandangan mengenai kebijakan moneter.

Mengutip bullionvault, Rabu (18/7/2018), harga patokan emas di London berada di angka USD 1.312 per ounce.

Powell menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi AS berada di level moderat sehingga the Fed masih pada jalur kebijakan moneter yang telah disebutkan sebelumnya.

Pelaku pasar memperkirakan bahwa the Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua kali hingga akhir tahun setelah sebelumnya telah menaikkan dua kali juga pada tahun ini.

“Satu-satunya pendukung kenaikan harga emas adalah isu mengenai perang dagang yang saat ini tengah berkumandang,” jelas analis ICBC Standard, Marcus Garvey.

Harga Emas Stabil di Tengah Lemahnya Permintaan
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas stabil pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) karena permintaan fisik yang lemah dari negara-negara konsumen terbesar dan dibebani ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/7/2018) harga spot emas turun 0,2 persen menjadi USD 1.239,11 per ounce. Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus mulai stabil USD 1,5, atau 0,1 persen menjadi USD 1,239.70 per ounce.

Mata uang AS yang lebih rendah membuat emas yang dijual dalam denominasi dolar AS menjadi lebih murah untuk pemegang mata uang lainnya, yang biasanya meningkatkan permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Namun, permintaan fisik yang rendah  dari negara-negara konsumen terbesar seperti China dan India dan harapan yang terus berlanjut dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga menekan harga emas.

“Tampaknya perekonomian China yang melambat kuartal II menjadi peredam harga emas,” kata George Gero, Direktur Pelaksana Pengelolaan Kekayaan RBC.

Impor emas India turun untuk bulan keenam di bulan Juni menjadi 44 ton akibat pelemahan rupee yang mengangkat harga emas lokal ke level tertinggi dalam hampir 21 bulan sehingga membatasi permintaan.

“Konsumsi ritel India dan China telah dihalangi oleh depresiasi mata uang, “analis Citi mengatakan dalam sebuah catatan.

“Investor bisa kembali ke emas, terutama jika gesekan perdagangan kian memanas dan menjadi ancaman yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dan bagi landasan pasar ekuitas jangka panjang.” Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Stabil di Tengah Lemahnya Permintaan

PT Rifan Financindo

 

PT Rifan Financindo – Harga emas stabil pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) karena permintaan fisik yang lemah dari negara-negara konsumen terbesar dan dibebani ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Selasa (17/7/2018) harga spot emas turun 0,2 persen menjadi USD 1.239,11 per ounce. Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus mulai stabil USD 1,5, atau 0,1 persen menjadi USD 1,239.70 per ounce.

Mata uang AS yang lebih rendah membuat emas yang dijual dalam denominasi dolar AS menjadi lebih murah untuk pemegang mata uang lainnya, yang biasanya meningkatkan permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Namun, permintaan fisik yang rendah  dari negara-negara konsumen terbesar seperti China dan India dan harapan yang terus berlanjut dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga menekan harga emas.

“Tampaknya perekonomian China yang melambat kuartal II menjadi peredam harga emas,” kata George Gero, Direktur Pelaksana Pengelolaan Kekayaan RBC.

Impor emas India turun untuk bulan keenam di bulan Juni menjadi 44 ton akibat pelemahan rupee yang mengangkat harga emas lokal ke level tertinggi dalam hampir 21 bulan sehingga membatasi permintaan.

“Konsumsi ritel India dan China telah dihalangi oleh depresiasi mata uang, “analis Citi mengatakan dalam sebuah catatan.

“Investor bisa kembali ke emas, terutama jika gesekan perdagangan kian memanas dan menjadi ancaman yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dan bagi landasan pasar ekuitas jangka panjang.” PT Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Emas Minggu Lalu & Arah Minggu Ini 16 juli 2018

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas pada hari Jumat di dominasi oleh valuasi “greenback”. Indeks dolar AS, yang ditutup setiap hari sepanjang minggu lalu pada teritori positip, melanjutkan kenaikannya ke ketinggian selama 2 minggu di 95 pada hari Jumat. Namun, indeks dolar AS kehilangan daya tariknya pada awal sesi Amerika Utara dan mulai kehilangan keuntungannya, menolong emas naik dari kerendahannya. Pada saat itu indeks dolar AS naik hanya 0.06% pada 94.63.

Data dari Amerika Serikat pada hari Jumat menunjukkan bahwa angka awal dari Indeks Sentimen Konsumen dari Universitas Michigan turun ke 97.1 lebih rendah daripada yang diperkirakan oleh pasar sebesar 98.2. Laporan tersebut menyoroti meningkatnya keprihatinan mengenai potensi dari pengaruh negatif dari kebijakan ekonomi pemerintah Trump terhadap ekonomi AS.

Minggu ini pasar emas akan tetap tergantung kepada dolar AS. Sebagian analis memperingati bahwa penurunan metal yang terjadi sejak bulan April diperkirakan tidak akan berubah segera. Emas sedang menuju minggu dalam teritori negatif dengan kejatuhan keempat dalam lima minggu dengan harga emas telah jatuh ke kerendahan selama 12 bulan.

Kelemahan emas datang karena indeks dolar AS terus diperdagangkan dekat ketinggian 12 bulan, terakhir diperdagangkan pada 94.85.

Di dalam minggu yang penuh dengan kefrustrasian bagi para investor emas, metal kuning telah mengabaikan semua data positip yang fundamental, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, tekanan inflasi dan tingkat bunga riil yang negatif.

Analis komoditi pada Commerzbank dalam laporannya pada hari Jumat mengatakan,”Emas tetap  seratus persen tenang. Atau dengan perkataan lain – tidak peduli apapun yang terjadi, harga emas tidak akan naik secara signifikan.”

Mereka kemudian menambahkan:”Mengapa emas tidak mengambil keuntungan dari kekacauan yang sedang terjadi sekarang adalah sesuatu yang menjadi teka-teki bagi kami yang bertambah-tambah setiap hari. Kami percaya harga emas telah dibawah dari nilai sesungguhnya dan mengharapkan pemulihan yang berarti pada paruh waktu kedua dari tahun ini.”

Hal yang positip bagi emas adalah kenyataan bahwa tingkat bunga riil telah turun ke teritori negatif. Di dalam sebuah laporan pada hari Kamis minggu lalu, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa Consumer Price Index tahunan mereka naik menjadi 2.9%, level tertinggi dalam waktu lebih dari enam tahun. Inflasi sekarang diatas imbal hasil obligasi 10 tahun, yang pada saat ini diperdagangkan pada 2.83%. Para investor yang membeli Treasuries 10 tahun sedang mengalami kerugian tujuh basis poin atas investasi mereka karena meningkatnya inflasi.

Namun, Lukman Otunuga, analis riset pada FXTM mengatakan para investor bisa membuang semua fundamental yang positip bagi emas sepanjang ekonomi AS, meningkatnya tingkat bunga dan kenaikan dolar AS terus mendominasi pasar.

Dia mengatakan,”Para investor lebih memperhatikan nilai daripada dolar AS daripada emas. Perlu ada sesuatu yang ekstrim untuk bisa mendorong naik harga emas dan kami tidak melihat sesuatupun  di horizon.”

Otunuga menambahkan bahwa pasar dan investor sedang mati rasa dan tidak peduli dengan bertumbuhnya ancaman perang dagang global. Dia menjelaskan bahwa momentum yang kuat dari ekonomi AS telah mengurangi kebutuhan atas asset safe-haven.

Walaupun ada banyak ketidak pastian, nampaknya dolar AS terus mencuri posisi emas sebagai safe-haven yang baru. Sentimen ekonomi terhadap ekonomi AS sedang “bullish” secara ekstrim sehingga investor lebih cenderung membeli dolar AS dan saham daripada emas. Rifanfinancindo.

 

 

Sumber : Vibiznews

Harga Emas Menguat di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Harga emas naik tipis pada perdagangan Kamis, mematahkan penurunan yang telah terjadi pada dua sesi perdagangan sebelumnya. Penguatan harga emas ini terhadi di tengah kekhawatiran atas perang dagang yang semakin intensif antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Mengutip Reuters, Jumat (13/7/2018), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi USD 1.244 per ounce. Di sesi sebelumnya, harga emas sempat tergelincri 1 persen hingga mencapai titik terendah mingguan di 1.240,89 per ounce.

Dagang AS vs China
Sedangkan untuk harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus sedikit berubah menjadi USD 1.244 per ounce.

“Hari ini menjadi salah satu dimana perang dagang membawa minat pelaku pasar untuk mengoleksi emas,” jelas kepala analis ThinkMarkets.com, Naeem Aslam.

“Kami tahu bahwa Trump serius mengenakan tarif datang kepada China dan reaksi balasan China diperkirakan akan ada kecenderungan meningkat sehingga memberikan tenaga sedikit lebih lama kepada emas,” lanjut dia.

Perdagangan saham dan komoditas sedikit pulih pada hari Kamis setelah mengalami tekanan yang sangat dalam pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut karena kekhawatiran akan perang dagang yang akan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

China menuduh Amerika Serikat (AS) melakukan intimidasi dan memperingatkan akan memukul balik setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan taruhan dalam sengketa perdagangan mereka.

Siasat Balas Dendam China ke AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut antusias penunjukkan negaranya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama dengan Kanada dan Meksiko. (AFP/Nicholas Kamm)

China selama ini mendominasi ekonomi di Asia, dan negara tersebut tengah melakukan ekspansi ekonomi ke Eropa, bahkan Afrika. Sayang, ambisi mereka sedang diguncang perang dagang.

Dilansir CNBC, China yang bersumpah melakukan balas dendam telah memiliki sejumlah rencana selain menerapkan tarif balasan. Salah satunya adalah mempersiapkan industri agrikultur agar tidak bergantung pada kedelai.

China merupakan tujuan utama ekspor kedelai AS. Hampir setengah produksi kedelai Amerika Serikat (AS) dikirim ke negara tersebut. Sebelumnya, China sudah membatalkan pesanan impor kedelai AS sebesar 1,1 juta ton. Umumnya, kedelai itu dipakai sebagai pakan 700 juta babi di sana.

Merespons langkah China, konsultan Majelis Ekspor Kedelai AS John Baize pesimistis terhadap efektifnya rencana China.

“Tidak banyak yang bisa mengganti kacang kedelai. Cepat atau lambat kau butuh suplemen protein,” ucapnya. Ia menambahkan rencana penyetopan kedelai AS hanya rencana politisi yang tidak memahami keadaan ternak.

Media pemerintah China, Global Times, menyebut perang dagang ini sebagai trik pemerasan AS. Mereka juga menyatakan pihak pemerintah telah siap mengambil langkah retaliasi.

“Pemerintahan China telah siap mengambil tindakan pembalasan kapanpun diperlukan,” tulis Global Times.

Lebih lanjut, media China mengakui adanya perusahaan-perusahaan ekspor China sedang menderita akibat perang dagang. Pemerintah China juga menyebut bisa mengurangi ketergantungan dari AS.

“Masyarakat China marah dengan hegemoni dagang AS. Beberapa perusahaan-perusahaan ekspor di China telah menderita secara langsung dari perang dagang dan pantas mendapat bantuan pemerintah untuk meminimalisir kerugian. Pemerintah China bisa menyesuaikan ekonomi dan dagang agar mengurangi ketergantungan dengan AS,” tulis Global Times. Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6