PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Tag Archives: Rifan Financindo Surabaya

Dolar AS Jatuh, Harga Emas Merangkak Naik

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Harga emas sedikit menguat pada perdagangan Kamis setelah mengalami penurunan selama enam bulan akibat apresiasi dolar Amerika Serikat (AS). Namun dolar AS mulai melemah dari posisi tertinggi 11 bulan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (22/6/2018), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi USD 1.265,4 per ounce. Sementara posisi terendahnya USD 1.260,84 per ounce sejak 19 Desember 2017.

Harga perak terkeren naik 0,4 persen ke posisi USD 16,33 per ounce dari sebelumnya USD 16,16 per ounce atau terendah sejak 2 Mei ini. Sedangkan harga platinum susut 0,1 persen menjadi USD 866,10 per ounce.

“Harga emas mulai meningkat karena pelemahan dolar AS,” kata RJO Futures Dan Pavilonis.

Dolar AS jatuh dari level tertingginya 11 bulan terhadap beberapa mata uang utama memicu aksi ambil untung. Suku bunga AS yang lebih tinggi dan prospek kenaikan lanjutan dari The Fed telah mengangkat dolar AS ke level tertinggi sejak Juli 2017.

Suku bunga yang lebih tinggi akan mendorong investor untuk menjual emas. Namun demikian, para pedagang yakin akan ada permintaan emas dari Rusia.

“Kami telah mendengar berita selama beberapa minggu terakhir bahwa Rusia telah membeli lebih banyak emas dan menjual obligasi AS,” Pavilonis menambahkan.

Selanjutnya
Wakil Presiden PT RBC Capital Markets George Gero mengatakan, Rusia bisa saja menaikkan mata uangnya karena penurunan harga minyak mentah.

“Mereka (Rusia) adalah produsen emas besar, mungkin mereka mencoba menstabilkan pasar,” ujarnya.

Sementara itu, kepemilikan emas di bursa telah jatuh sejak April. “Ketidakpastian biasanya akan memicu permintaan emas sebagai instrumen safe haven,” ucap Analis Julius Baer Carsten Menke.

Menurutnya, investor AS tengah fokus pada pasar domestik maupun perkembangan ekonominya. Termasuk ancaman dari perang dagang. Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6

Dolar AS Menguat Selama Juni Picu Harga Emas Melemah

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

 

PT Rifan Financindo – Harga emas melemah dan menandai titik nadir baru pada 2018. Hal itu didorong pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) sehingga mengurangi minat untuk permintaan emas.

Harga emas untuk pengiriman Agustus melemah USD 4,1 atau 0,3 persen. Harga emas tersebut terendah untuk kontrak paling aktif sejak 21 Desember.

“Dalam jangka pendek, harga emas tetap lebih rendah karena kekuatan dolar AS menjadi salah satu tren paling dominan,” ujar Tyler Richey, Co-Editor the Sevens Report, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (21/6/2018).

Ia menambahkan, suku bunga rill juga belum bergerak banyak. Akan tetapi, risiko arus dana didorong kekhawatiran perang dagang sehingga menopang harga surat utang atau obligasi dan menekan imbal hasil. Di sisi lain, inflasi terus stabil.

“Emas mungkin ada penawaran dan setidaknya dapat mendorong kembali ke level USD 1.300 karena ekspektasi tingkat suku bunga riil akan menurun,” tambah dia.

Pergerakan dolar AS juga pengaruhi harga emas. Indeks dolar AS turun 0,1 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat. Akan tetapi, indeks dolar AS telah naik hampir 1,1 persen pada Juni 2018. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun naik tipis 2,3 basis poin menjadi 2,915 persen.

Penguatan dolar AS membebani komoditas terutama bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. Meningkatnya imbal hasil obligasi juga menekan emas.

Namun, keuntungan dolar AS telah mengimbangi permintaan untuk emas batangan mengingat ketegangan perdagangan yang meningkat antara AS dan China. Biasanya aset investasi relatif aman termasuk emas menjadi pilihan di tengah ketidakpastian.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta perwakilan perdagangan AS Robet Lighthizer untuk identifikasi produk China yang dapat dikenakan tarif 10 persen. Ini dapat meningkatkan kekhawatiran perang dagang.Selain itu, the Federal Reserve berencana menaikkan suku bunga dua kali lagi pada 2018.

Pada pertengahan Juni, the Federal Reserve telah menaikkan suku bunga acuan sekitar 25 basis poin atau 0,25 persen. Hal tersebut mendorong imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun menguat.

Sementara itu, harga logam lainnya yaitu harga perak turun 0,1 persen menjadi USD 16.309 per ounce. Harga tembaga untuk pengiriman Juli melemah 0,2 persen. Harga platinum naik 1,1 persen menjadi USD 874 per ounce. PT Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Melonjak Antisipasi Pertemuan Kim Jong-un dan Trump

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas menguat tipis dengan kisaran harga yang ketat. Hal ini seiring investor mencermati pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura.

Pertemuan pada Selasa pekan ini akan membahas denuklirisasi Korea Utara. Investor juga menunggu hasil pertemuan bank sentral.

Harga emas untuk pengiriman Agustus menguat 50 sen ke posisi USD 1.303,20. Harga emas sempat berada di level terendah USD 1.297,80 dan tertinggi USD 1.307. Sedangkan harga perak naik 1,3 persen ke posisi USD 16.952 per ounce.

“Harga emas berada di kisaran yang ketat hingga pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve berakhir. Pelaku pasar akan mencermati pernyataan dan sinyal kenaikan suku bunga berikutnya,” ujar Jeff Wright, Wakil Presiden Eksekutif GoldMining Inc, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa (12/6/2018).

Ia menuturkan, saat ini masih jadi misteri bagaimana respons pasar terhadap pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura.

“Jelas tontonan publik negatif tidak akan berdampak baik di pasar global dan menciptakan sejumlah permintaan aset safe haven yang kuat tetapi itu probalilitas yang rendah,” ujar dia.

Wrighyt menuturkan akan pertimbangkan hasil pertemuan itu di Singapura terhadap harga emas. Sementara itu, perdagangan global masih menjadi masalah.

Sejauh ini dampaknya terbatas usai ketegangan akhir pekan antara Trump dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Trump menarik dukungannya untuk komunike kelompok negara G7 setelah Trudeau kritik tarif AS terhadap logam Kanada.

Permusuhan antara Trump dan pemimpin dua sekutu dekat yaitu Kanada dan Prancis yang meningkat jelang pertemuan G7.

“Pertikaian terkait perdaganan antara AS dan Kanada semakin menekankan harapan yang memudar AS dan mitra dagang utamanya dapat hindari eskalasi sanksi perdagangan terhadap satu sama lain,” ujar Analis Senior Kitco.com, Jim Wyckoff.

“Masalah tersebut bisa sentiment beragam untuk emas. Dari perspektif safe-haven, itu naik karena ketegangan antara ekonomi terbesar di dunia. Namun dari perspektif komoditas rendah karena potensi penurunan perdagangan dunia terutama dalam komoditas,” tambah dia. Rifanfinancindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Kebijakan The Fed Bayangi Harga Emas

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Pergerakan harga emas pada pekan ini akan dipengaruhi sejumlah keputusan bank sentral terkait kebijakan moneter dan sentimen geopolitik.

Pelaku pasar juga sudah mengantisipasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga. Banyak analis mencatat harga emas sudah ikuti pola sebelumnya. Aksi jual terjadi sebelum kenaikan suku bunga yang diharapkan terjadi pada pertemuan bank sentral AS Juni ini.

Salah satu hal yang jadi pertanyaan apakah pola it uterus berlanjut pada pekan ini lantaran inflasi meningkat dan ekonomi AS terus tumbuh stabil. Sebelumnya harga emas untuk pengiriman Agustus berada di posisi USD 1.302,70 per ounce atau hanya naik 0,26 persen sejak pekan lalu.

Baca Juga

Keputusan The Fed Masih Jadi Pendorong Kenaikan Harga Emas
The Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan
Dolar AS Perkasa, Harga Emas Merosot

Bagi banyak analis, sinyal kenaikan suku bunga bertahap oleh the Federal Reserve kemungkinan terjadi pada Desember 2018. Kepala investasi emas State Street Global Advisors, George Milling-Stanley menuturkan, kenaikan suku bunga emas bertahap akan membuat emas kembali menguat. Harga emas akan bergerak di kisaran USD 1.350-1.400 per ounce.

“Saya berharap emas akan naik cukup baik segera pengumuman the Federal Reserve. Saya pikir tidak perlu waktu lebih lama bagi pasar emas untuk menyesuaikan,” ujar dia seperti dikutip dari laman Kitco, Senin (11/6/2018).

Namun, bahkan jika the Federal Reserve hanya memberi kenaikan suku bunga satu kali pada 2018, kenaikan berikutnya akan sangat penting. Hal itu seperti disampaikan Martin Murenbeerl, Presiden Direktur Murenbeeld and Co.

“Jika harga kenaikan suku bunga pada September, emas mungkin hanya menghasilkan USD 10 dalam waktu singkat,” kata dia.

Presiden Direktur SIA Wealth Management Inc, Colin Cieszynski tidak yakin the Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Ini seiring inflasi meningkat bersama dengan pertumbuhan ekonomi akan membuat the Federal Reserve menaikkan suku bunga sekali hingga 2019.

“Sekarang Federal Reserve tidak memiliki banyak alasan untuk berhenti menaikkan suku bunga,” kata Cieszynski.

Namun diprediksi risiko terhadap pergerakan harga emas juga masih berkembang. Hal ini bila the Federal Reserve bersikap agresif untuk menormalkan suku bunga. Mengingat bank sentral Eropa memberi sinyal untuk mengetatkan kebijakan moneter bertahap.

“Saya pikir the Federal Reserve  ragu untuk menaikkan suku bunga secara agresif tahun ini karena perbedaan kebijakan berubah menjadi lebih besar dari yang mereka inginkan. Tapi itu bukan lagi kasusnya,” kata Presiden Direktur Blue Line Futures Bill Baruch. Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Naik Jelang Pertemuan Bank Sentral AS

PT Rifan Financindo

 

PT Rifan Financindo – Harga emas merangkak naik pada perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta) karena pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Harga emas menguat terbatas lantaran pasar menunggu hasil pertemuan The Federal Reserve untuk menentukan kenaikan tingkat suku bunga acuan AS.

Dikutip dari Reuters, Jumat (8/6/2018), harga emas di pasar spot naik 0,24 persen menjadi USD 1.299,05 per ounce. Sebelumnya sempat mencapai posisi tertinggi satu pekan USD 1.303,08 per ounce.

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menanjak USD 1,60 atau 0,1 persen menjadi USD 1.303 per ounce.

“Kenaikan harga emas karena pelemahan dolar AS,” ujar Analis Ekonomi Capital, Simona Gambarini.

Pelemahan dolar AS akan mengangkat harga emas karena membuat harga logam tersebut lebih murah dan mendongkrak permintaan.

Namun demikian, investor berada dalam sikap melihat dan menunggu atau wait and see menjelang pertemuan The Fed pada 12-13 Juni 2018. Mereka mengharapkan tingkat kenaikan pada suku bunga acuan dan sinyal pada prospek kebijakan moneter AS.

Suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung akan meningkatkan dolar AS dan imbal hasil obligasi, sehingga bisa mengurangi daya tarik non-imbal hasil emas batangan.

“Harga emas akan lebih baik lagi karena masih menunggu waktu enam hari untuk pertemuan The Fed berikutnya,” kata Direktur Pengelolaan RBC Wealth Management, George Gero.

Ekspektasi bahwa Bank Sentral AS akan menaikkan Fed Fund Rate beberapa kali pada tahun ini didorong oleh data AS terkait tunjangan pengangguran yang turun. PT Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6