PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Tag Archives: PT Rifanfinancindo

Apakah Itu Brexit? Apa Dampaknya ke Indonesia?

PT RifanFinancindo Berjangka

PT RifanFinancindo Berjangka – Hari ini pasar sedang ramai membicarakan tentang Brexit. Apakah itu ‘Brexit’?

Istilah Brexit berasal dari kata Britain Exit. Istilah ini mirip seperti ketika Yunani/Greek keluar dari Uni Eropa, maka orang menyebut peristiwa itu dengan Grexit yang berasal dari kata Greek Exit.

Mengapa “Brexit” atau referendum “Brexit” begitu banyak dibicarakan saat ini? Dan, apa sih sebenarnya referendum Brexit itu?

Referendum ‘Brexit’ adalah pemungutan suara dari seluruh warga negara Inggris, Irlandia dan Selandia Baru, untuk memutuskan apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa atau tetap berada di Uni Eropa.

Pada tahun 2015, Perdana Menteri David Cameron, berjanji jika dia terpilih dalam pemilu, maka ia akan menyelenggarakan referendum terkait apakah Inggris akan keluar atau tetap dalam Uni Eropa.

Jadi sebenarnya isu Brexit ini sudah lama muncul namun baru akhir-akhir ini menjadi fokus alias perhatian investor karena referendum keanggotaan Uni Eropa akan diselenggarakan hari ini 23 Juni 2016.

Lalu, mengapa Inggris mempertimbangkan untuk keluar dari Uni Eropa?

Kita tarik mundur. Pada tahun 1975, Inggris juga pernah mengadakan referendum apakah akan keluar sebagai anggota Uni Eropa atau tetap di dalam Uni Eropa. Pada waktu itu diputuskan, Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa.

Namun ada sekelompok golongan yang merasa bahwa sejak tahun 1975 tersebut, Uni Eropa semakin mengontrol kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, sebagian rakyat Inggris merasa bahwa Inggris terbebani oleh Uni Eropa, di mana Uni Eropa membuat peraturan yang dinilai banyak membatasi bisnis di Inggris.

Hal lain yang menjadi pertimbangan bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa adalah karena Uni Eropa menarik uang untuk biaya keanggotaan sejumlah miliaran dolar dan Inggris merasa hanya sedikit keuntungan yang diperoleh.

Ada lagi hal lainnya yang menjadi pertimbangan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yaitu salah satu prinsip Uni Eropa tentang ‘Free Movement’ yang membawa banyak imigran datang dan menetap di Inggris.

Nah pertanyaannya adalah, apa dampaknya jika Inggris keluar dari Uni Eropa bagi Inggris dan Eropa sendiri? Apa pula dampaknya pada bursa saham global dan bursa saham di Indonesia pada khususnya ?

Dampak bagi Inggris dan masyarakat Uni Eropa

Keputusan apakah Inggris akan keluar dari Uni Eropa atau tidak menjadi perhatian masyarakat Inggris sendiri dan masyarakat Uni Eropa yang bekerja di Inggris. Ada banyak ketidakpastian yang akan terjadi jika Inggris keluar dari Uni Eropa.

Masyarakat Inggris sendiri akan mempertimbangkan untuk keluar dari Uni Eropa atau tidak, dengan melihat dampak secara perekonomian. Sebagai contoh, masyarakat Inggris akan melihat apakah biaya hidup akan semakin murah setelah keluar dari Uni Eropa?

Apakah bunga KPR akan turun? Dan banyak pertimbangan lain yang masih belum ada jawaban pastinya.

Perlu diketahui, salah satu prinsip Uni Eropa tentang “Free Movement” sebenarnya telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Inggris baik secara positif maupun negatif.

Ada sekitar 800 ribu masyarakat Polandia yang bekerja dan menetap di Inggris, dan belum termasuk sumber daya manusia dari negara lain dari Uni Eropa.

Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka banyak SDM yang berasal dari luar Inggris akan menggantung nasibnya, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.

Selain itu, Inggris sendiri juga akan mengalami “kerugian”. Ekonom mengatakan bahwa, perusahaan di Inggris akan kerepotan untuk mencari posisi pengganti jika banyak SDM yang potensial dari luar Inggris yang dikeluarkan, dan hal itu akan berpengaruh pada perlambatan perekonomian.

Tidak hanya kehilangan “talent” namun Inggris juga akan kerepotan jika banyak SDM di posisi “kecil” dikeluarkan secara massal. Konon, di Inggris, jarang sekali ada orang yang mau bekerja sebagai pelayan toko atau restoran. Posisi seperti itu diisi oleh warga Uni Eropa di luar Inggris.

Saat ini, warga Uni Eropa yang telah menetap dan memiliki mata pencaharian di Inggris sedang harap-harap cemas. Mereka berharap bahwa Inggris tidak jadi keluar dari Uni Eropa.

Dampak bagi Amerika dan Pasar Modal Amerika

Eropa banyak membeli dan menggunakan produk dari beberapa perusahaan di Amerika Serikat (AS) yang terdaftar dalam indeks S&P 500, sehingga hal ini akan memberikan dampak langsung terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.

Namun, investor dan analis di AS tetap percaya, bahwa hal itu tidak akan berpengaruh signifikan dikarenakan barang-barang yang digunakan tersebut kebanyakan berasal dari perusahaan sektor makanan, minuman, dan obat-obatan yang masih akan terus dibutuhkan dan digunakan masyarakat Eropa.

Oleh karena itulah, AS percaya bahwa Brexit tidak akan terlalu berpengaruh pada bursa Amerika dari sudut pandang tersebut.

Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan, terkait nilai tukar mata uang poundsterling, euro, dan dolar AS. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, ada potensi nilai tukar poundsterling dan euro mengalami pelemahan.

Hal itu akan mendorong investor untuk menukarkan investasi dalam bentuk mata uang poundsterling dan euro ke dalam dolar AS, sehingga bisa mendorong nilai tukar dolar AS menjadi semakin tinggi.

Apa dampaknya jika memang terjadi hal tersebut? Apakah positif atau negatif untuk AS?

Menguatnya nilai mata uang sebuah negara, dalam hal ini Amerika, dapat berakibat pada semakin mahalnya harga barang yang diekspor, sehingga menjadi sulit bersaing dengan harga barang secara internasional. Dengan demikian, pendapatan negara dari ekspor menjadi berkurang.

Apa Dampaknya Brexit ini Buat Indonesia?

‘Brexit’ akan berpengaruh pada arus investasi di Indonesia yang datang dari Inggris. Namun dampak tersebut tidak terlalu signifikan, dan akan lebih terasa pada negara-negara di Uni Eropa.

Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, tidak akan berdampak besar terhadap ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.

Senada dengan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Indonesia, Bambang Brodjonegoro mengatakan, ‘Brexit’ akan berdampak pada ekonomi global dan Indonesia juga merupakan bagian dari ekonomi global yang juga akan terkena dampaknya.

Namun, pengaruh Brexit bagi Indonesia tidak akan signifikan dan hanya bersifat sementara atau jangka pendek saja.

Saya pribadi menilai bahwa jika Inggris keluar dari Uni Eropa, tetap akan ada dampak bagi pasar modal Indonesia karena pasar modal Indonesia masih didominasi asing.

Namun, dampaknya tidak akan terlalu signifikan. Tetap masih ada peluang untuk mendapatkan keuntungan di pasar saham dalam kondisi apa pun jika Anda mengerti ilmunya.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan salam profit!

(ang/ang)

Apakah Inggris Keluar dari Uni Eropa? Hari Ini Penentuannya

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka Hari ini, Kamis (23/6/2016), bisa jadi merupakan hari yang paling ditunggu dan paling menentukan bagi Inggris.

Sebab, di hari inilah masa depan Inggris dalam keanggotaan Uni Eropa akan ditentukan. Rakyat Inggris, lewat referendum, akan memilih apakah negeri pulau itu akan tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar dari pakta ekonomi tersebut.

Isu yang di Inggris disebut dengan istilah Brexit itu memang terlihat ?menguasai? sebagian masyarakat negeri itu.

Saat Kompas.com berkunjung ke kota London belum lama ini, banyak warga sudah memajang pilihannya di jendela rumah mereka.

Di berbagai rumah di dalam kota London, banyak yang memajang plakat bertuliskan ?I?m in? yang artinya mereka ingin Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa.

Sedangkan di luar kota London, kata ?No? atau memilih keluar dari Uni Eropa agaknya lebih mendominasi.

Kepada seorang kawan yang sudah hampir 20 tahun tinggal di London, saya bertanya apa keuntungan dan kerugiannya jika Inggris keluar dari Uni Eropa.

?Sebenarnya belum ada yang tahu dampaknya. Sebab, belum ada negara yang keluar dari sebuah pakta ekonomi seperti Uni Eropa. Jika Inggris keluar, maka negara ini akan jadi yang pertama,? kata Anton Alifandi, mantan jurnalis yang tinggal di London itu.

Sebelum mengetahui apa keuntungan dan kerugian bagi Inggris jika keluar dari Uni Eropa, ada baiknya jika kita memahami dulu apa itu Uni Eropa.

Usai Perang Dunia II, beberapa negara Eropa seperti Jerman Barat, Perancis dan empat negara lainnya bertekad untuk menghapus luka lama akibat dua perang dunia di benua itu.

Akhirnya mereka membentuk sebuah pakta kerja sama yang dinamakan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada 1957. Dalam perkembangannya, organisasi ini menjadi Uni Eropa pada 1993 dengan 28 negara anggota dan total 500 juta jiwa warga yang tersebar dari Irlandia hingga Yunani.

Uni Eropa ini bukan lagi sebuah organisasi namun sebuah “negara baru” lengkap dengan parlemen, bank sentral, undang-undang hingga mata uang bersama. Sejauh ini 19 negara anggota menggunakan euro sebagai mata uang resmi.

Inggris bergabung dengan Uni Eropa pada 1973, tetapi banyak warga negeri itu merasa pada dasarnya mereka berbeda dengan para negeri tetangga di Eropa daratan.

Sehingga meski menjadi anggota Uni Eropa, banyak kalangan di Inggris sudah lama merasa bahwa negeri itu seharusnya keluar dari pakta ekonomi tersebut.

Meski PM David Cameron menginginkan Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa, tetapi sekitar separuh anggota parlemen dari Partai Konservatif, termasuk lima menteri kabinet menginginkan Inggris keluar.

Sementara itu, PM Cameron mendapat dukungan dari 16 menteri kabinetnya untuk berupaya agar Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa.

Partai Konservatif, partainya Cameron, sudah menyatakan netral dalam hal ini tetapi Partai Buruh, SNP, Plaid Cymru dan Lib Dems semua menginginkan Inggris tetap di Uni Eropa.

Dukungan juga datang dari Presiden AS Barack Obama, Perancis dan Jerman. Bagaimana dengan masyarakat Inggris sendiri? Secara umum, jumlah warga yang menginginkan keluar dan tetap di Uni Eropa relatif berimbang.

London adalah benar-benar kota kosmopolitan, hampir semua ras dan bangsa ada di ibu kota Inggris itu.

Saat Kompas.com menumpang tube, istilah kereta bawah tanah London, terdengar banyak bahasa dunia hanya dalam satu gerbong.

Itu berarti Inggris dan perekonomiannya menjadi layaknya gula yang mengundang banyak semut datang untuk mencicipi.

“Di London ada sekitar 500.000 orang Perancis, sebaliknya di Paris hanya ada 16.000 orang Inggris. Artinya, roda perekonomian memang ada di sini (Inggris),” kata Anton Alifandi.

Apa yang disampaikan kawan saya itu nampaknya memang benar. Banyak warga negara asing datang ke Inggris untuk bekerja.

Polandia adalah salah satu negara Uni Eropa dengan cukup banyak warganya yang bekerja di Inggris, sehingga jika Inggris keluar dari Uni Eropa maka para pekerja asal Polandia ini akan terdampak.

Sehingga, salah satu kekhawatiran jika Inggris hengkang dari Uni Eropa adalah kurangnya tenaga kerja untuk sejumlah sektor di negeri itu.

Kerugian lain jika keluar dari Uni Eropa, menurut kelompok anti-Brexit, adalah kesulitan perusahaan Inggris untuk mengekspor dan mengimpor barang dari negara Uni Eropa.

Kelompok anti-Brexit ini juga mengatakan menjadi anggota organisasi besar dengan 28 negara membuat rakyat Inggris lebih memiliki pilihan untuk bekerja dan tinggal di negara lain.

Namun, kelompok pro-Brexit melihat kerugian yang diderita Inggris akibat bergabung dengan Uni Eropa jauh lebih besar ketimbang keuntungannya.

Misalnya terlalu banyak aturan terhadap sektor bisnis serta uang iuran yang bernilai miliaran poundsterling setiap tahun yang dianggap tak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Kelompok ini juga tak suka dengan prinsip “pergerakan bebas” yang diusung Uni Eropa yang artinya warga ke-28 negara anggota bebas bepergian antarnegara tanpa perlu paspor atau visa.

Inilah yang tak diinginkan kelompok pro-Brexit yang mendambakan Inggris kembali mengendalikan perbatasan dan jumlah imigran yang diperkenankan masuk untuk tinggal dan bekerja.

Para pemimpin Uni Eropa mencoba mencari jalan tengah dan kompromi terkait prinsip “pergerakan bebas” yang diusung organisasi ini.

Komprominya adalah, warga Uni Eropa tetap bebas bepergian, bekerja dan tinggal di negara lainnya. Namun, Uni Eropa menawarkan sistem yang disebut “rem darurat” untuk Inggris.

Dengan skema ini, Inggris berhak menahan pembayaran tunjangan sosial untuk periode tertentu jika negeri itu bisa membuktikan sistem kesejahteraannya tengah mengalami masalah.

Jika hasil referendum mengharuskan Inggris hengkang dari Uni Eropa, maka ada masa tenggang selama dua tahun bagi Inggris untuk benar-benar keluar dari blok perekonomian ini.

Di masa dua tahun itu, Inggris masih harus mengikuti dan menjalankan semua peraturan dan perjanjian Uni Eropa yang sudah disepakati, tetapi Inggris tidak bisa terlibat dalam pengambilan keputusan.

Selama dua tahun itu, Inggris akan menegosiasikan berbagai kesepakatan terkait hubungan dengan negara anggota Uni Eropa lainnya. Biasanya, negosiasi akan memakan waktu lebih dari dua tahun, tergantung kelancaran negosiasi.

Pertanyaan besarnya bagaimana kira-kira hasil referendum hari ini?

Hasilnya sangat sulit diprediksi. Selain jumlah warga yang pro dan anti-Brexit relatif seimbang, sejauh ini tidak ada preseden sebelumnya.

Inggris belum pernah menggelar referendum sejak 1975 dan berbagai jajak pendapat, misalnya pada pemilihan umum 2015, sangat tak akurat dan terlalu bervariasi.

Sumber : kompas.com

Saham Hong Kong Naik Untuk Hari ke- 4 Terkait Meredanya Kekhawatiran Brexit

Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Saham-saham Hong Kong naik untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu ini, karena investor berharap Inggris akan memilih untuk tinggal di Uni Eropa pada referendum minggu ini, sementara pernyataan berhati-hati dari Ketua The Fed Janet Yellen pada kenaikan suku bunga di masa depan juga menenangkan sentimen.

Indeks Hang Seng naik 0,6 persen, ke 20,795.12, sedangkan Indeks China Enterprises naik 0,7 persen, ke 8,763.11 poin.

Saham Asia di luar Jepang naik ditengah kampanye untuk referendum U.K. untuk tetap bertahan di Uni Eropa. Saham di Tokyo turun pada volume rendah karena penguatan yen.

Saham Eropa naik untuk hari keempat di tengah reli saham penambang dan produsen energi, sementara investor meyakini bahwa Inggris akan memilih untuk bertahan di Uni Eropa.

Penambang memimpin kenaikan di antara saham-saham Eropa, dengan Anglo American Plc dan ArcelorMittal naik setidaknya 1,9 persen seiring kenaikan pada harga logam industri. Tullow Oil Plc memimpin perusahaan minyak berada di level yang lebih tinggi seiring berlanjutnya penguatan minyak mentah.

Stoxx 600 Index Eropa naik 0,3 persen pada pukul 08:21 pagi waktu London. Saham ditutup dengan kenaikan terbesar tiga hari dalam hampir 10 bulan kemarin setelah survei menunjukkan perolehan suara untuk kubu ?Bertahan? Uni Eropa menguat. Sementara jajak pendapat terbaru masih terbelah pada hasil, rumah taruhan menempatkan peluang untuk “Bertahan” pada sekitar 80 persen, menurut data Oddschecker. Mereka hanya melihat satu banding empat kesempatan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Stoxx 600 mulai rebound pada hari Jumat seiring meredanya kekhawatiran Brexit di tengah suspensi dalam kampanye setelah pembunuhan anggota parlemen Partai Buruh Jo Cox. Indeks ekuitas telah berjuang untuk mempertahankan momentum setelah rally 16 persen dari level terendah pada Februari sampai ke level tinggi pada 20 April. Indeks ini masih turun 1,9 persen pada Juni, dan berada di jalur untuk penurunan bulanan pertama dalam empat bulan terakhir.

Indeks MSCI Asia Pacific Tidak termasuk Indeks Jepang naik 0,5% menjadi 414,09 pada 17:03 sore di Tokyo. Indeks Singapura, Hong Kong dan China menguat, sementara indeks Topix Jepang turun 0,7%. Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan kepada anggota dewan AS bahwa dia ingin perekonomian untuk berada di “jalur yang menguntungkan” sebelum bank sentral menaikkan suku bunga

Indeks kelas berat Tencent Holdings Ltd naik 2,1 persen, setelah kelompok game terbesar di China tersebut mengatakan bahwa mereka akan membeli saham mayoritas di ‘Clash of Clans’ pembuat mobile game Supercell untuk memperluas kepentingan di luar negeri.(mrv)

Sumber: Reuters

Sentimen Investor Jerman Tak Diduga Meningkat Jelang Voting U.K.

RifanFinancindo

PT RifanFinancindo ? Kepercayaan investor Jerman secara tak terduga meningkat pada bulan Juni setelah jajak pendapat terkait masa depan Inggris di Uni Eropa menunjukkan ”Remain? (Tetap bertahan).

Pusat Penelitian Ekonomi Eropa ZEW di Mannheim mengatakan indeks investor dan ekspektasi analis, yang bertujuan untuk memprediksi perkembangan ekonomi enam bulan ke depan, naik menjadi 19,2 dari 6,4 pada bulan Mei. Itulah level tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Ekonom dalam survei Bloomberg memprediksi penurunan ke 4,8.

Perdebatan apakah Inggris, tujuan terbesar ketiga untuk ekspor Jerman, akan tetap di Uni Eropa telah didikte sentimen pasar finansial dalam beberapa pekan terakhir. Hasil dari referendum dalam dua hari sudah dekat, meskipun spekulasi peluang menyarankan kemungkinan dari ?keluar? telah memudar sejak pembunuhan anggota parlemen pro-Eropa Jo Cox pekan lalu.(yds)

Sumber: Bloomberg

Saham Cina naik terkait berkurangnya kekhawatiran brexit dan Fed

PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo Berjangka – Indeks saham utama China ditutup naik pada hari Rabu, seiring investor bertaruh Inggris akan memilih untuk bertahan di Uni Eropa minggu ini, sementara nada hati-hati Ketua Federal Reserve Janet Yellen pada kenaikan suku bunga di masa depan juga menenangkan sentimen pasar.

Indeks CSI300 dari perusahaan terbesar yang terdaftar di Shanghai dan Shenzhen naik 0,9 persen ke level 3,133.96 poin, sedangkan indeks komposit Shanghai juga naik 0,9 persen ke level 2,905.55 poin.

Sementara itu, Shenzhen ChiNext berkinerja baik, naik 2,5 persen, setelah Bank Rakyat China pada hari Selasa mengatakan bahwa koneksi saham antara Shenzhen dan Hong Kong akan terjadi “di waktu yang tepat”.

Semua saham berada di wilayah positif dengan saham energi dan dan kesehatan memimpin kenaikan. (sdm)

Sumber: reuters