PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Tag Archives: PT Rifanfinancindo Berjangka

DPR Tolak Suntikan Modal untuk Tiga BUMN Ini

PT Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Komisi VI DPR hari ini kembali menggelar rapat kerja lanjutan dengan pemerintah membahas Penyertaan Modal Negara (PMN). Pemerintah diwakili oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro.

Bambang ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggantikan Menteri BUMN Rini Soemarno. Pembahasan PMN ini adalah yang kedua kalinya setelah sebelumnya, Senin (20/6/2016), Menkeu juga hadir di Komisi VI.

Dalam rapat ini Komisi VI menolak suntikan dana PMN untuk tiga BUMN yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) (Persero) sebesar Rp 1 Triliun, PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) (Persero) sebesar Rp 1 triliun, dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) sebesar Rp 500 miliar.

“Komisi VI DPR menolak sebagian usul PMN dalam RAPBN-P tahun anggaran 2016 sesuai dengan rapat intern komisi VI pertama PT PPI, PT Pelindo III, dan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia jadi ketiga-tiganya ditolak,” kata Ketua Komisi VI Teguh Juwarno, pada saat rapat kerja dengan pemerintah di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Selain itu terdapat pemotongan anggaran usulan PMN untuk PT Hutama Karya (Persero) sebesar dari Rp 1 triliun, dari semula Rp 3 triliun menjadi Rp 2 triliun.

“Menyetujui pemotongan sesuai hasil keputusan rapat intern komisi VI terhadap PT Hutama Karya (Persero) sebesar Rp 1 Triliun,” lanjut Teguh.

Alasan usulan PMN ini ditolak adalah karena perusahaan tersebut dinilai mampu melakukan restrukturisasi sehingga tidak membutuhkan suntikan modal. Dengan adanya suntikan PMN yang disetujui oleh Komisi VI turun dari Rp 47,88 triliun menjadi Rp 44,38 triliun.
(hns/hns)

Sumber : detik.com

Pemerintah Janji Bangun Infrastruktur di Labuan Bajo Demi Gaet Turis

PT RifanFinancindo

PT RifanFinancindo Berjangka – Keterbatasan akses menjad kendala bagi wisatawan untuk datang ke Labuan Bajo di NTT. Demi mendatangkan turis, pemerintah berjanji untuk membenahi infrastruktur di Labuan Bajo.

Seperti yang diketahui, traveler dapat liburan ke Labuan Bajo dengan naik pesawat dari Jakarta via Bali atau menggunakan perahu dari Lombok di NTB sebagai pulau terdekat. Sementara akses jalan darat di Labuan Bajo masih buruk, khususnya untuk mencapai destinasi wisata yang aduhai indahnya.

Hal itu pun dibahas dalam acara Forum Group Discussion tentang pembangunan wisata Labuan Bajo di Auditorium I Gedung BPTT, Kamis (23/6/2016). Tenaga Ahli Bidang Regional Planning Kemenkomaritim dan Sumber Daya, Bambang Susanto Priyohadi, buka suara terkait rencana pemerintah untuk membangun infrastruktur demi kemudahan akses bagi wisatawan.

“Destinasi ini sudah bikin orang antre, tapi kita masih tergantung Bali. Itu dari segi akses,” ujar Bambang.

Bambang pun mengungkapkan, bahwa setidaknya baru ada dua kali penerbangan dalam sehari dari Jakarta menuju Labuan Bajo. Tentunya itu masih minim sekali untuk mengakomodir wisatawan yang ingin liburan ke Labuan Bajo. Untuk itu, pemerintah ingin agar frekuensi penerbangan ditambah. Termasuk juga perluasan pelabuhan di Labuan Bajo yang masih ala kadarnya.

“Jakarta Labuan Bajo baru ada dua kali sehari, padahal permintaannya sangat besar. Di pelabuhan, sekarang kapal besar dan kecil itu menyatu,” papar Bambang.

Untuk sekarang, pihak Pelindo 3 diketahui sudah berencana untuk membangun marina di Labuan Bajo. Apabila sudah jadi, marina tersebut akan menjadi tempat bersandar bagi para yacht. Labuan Bajo memang cocoknya dinikmati lewat yach atau kapal pesiar.

“Saat ini Pelindo 3 sudah mengembangkan program untuk membangun marina, 75-100 kapal yacht untuk masuk. Yacht itu hal yang menjadi daya tarik untuk Labuan Bajo,” ujar Bambang.

Tapi tidak hanya itu, dalam presentasi dijelaskan bahwa pemerintah juga berencana untuk memperlebar akses Bandara Komodo hingga membuat jalan lintas Utara. Keterbatasan air bersih yang juga menjadi kendala akan dipasok dari Air Terjun Cunca Wulang yang merupakan salah satu objek wisata di Labuan Bajo. Semuanya dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan.

“Kita ambil d bawahnya, Cunca Wulang kan di atas. Kami dalam melakukan pembangunan pariwisata bersama para amenitasnya sangat peka lingkungan, jadi gak perlu khawatir,” jelas Bambang.

Setelah air, daya pasok listrik juga dirasa masih kurang. Adanya tower listrik di Ruteng masih belum dapat memenuhi kebutuhan listrik di Labuan Bajo. Bagaimanapun, ketersediaan listrik menjadi bagian tak terpisahkan bagi pariwisata. Mengingat banyaknya gadget elektronik yang dibawa traveler.

“Ruteng itu sudah punya listrik, tower ada tapi jaringan transmisi belum ada,” papar Bambang.

Itulah kondisi akses di lapangan beserta rencana pembangunan infrastruktur yang akan dikerjakan oleh pemerintah. Semoga infrastruktur yang ada di Labuan Bajo dapat segera diselesaikan demi kemudahan wisatawan.

(aff/aff)

Sumber : Detik.com

Apakah Itu Brexit? Apa Dampaknya ke Indonesia?

PT RifanFinancindo Berjangka

PT RifanFinancindo Berjangka – Hari ini pasar sedang ramai membicarakan tentang Brexit. Apakah itu ‘Brexit’?

Istilah Brexit berasal dari kata Britain Exit. Istilah ini mirip seperti ketika Yunani/Greek keluar dari Uni Eropa, maka orang menyebut peristiwa itu dengan Grexit yang berasal dari kata Greek Exit.

Mengapa “Brexit” atau referendum “Brexit” begitu banyak dibicarakan saat ini? Dan, apa sih sebenarnya referendum Brexit itu?

Referendum ‘Brexit’ adalah pemungutan suara dari seluruh warga negara Inggris, Irlandia dan Selandia Baru, untuk memutuskan apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa atau tetap berada di Uni Eropa.

Pada tahun 2015, Perdana Menteri David Cameron, berjanji jika dia terpilih dalam pemilu, maka ia akan menyelenggarakan referendum terkait apakah Inggris akan keluar atau tetap dalam Uni Eropa.

Jadi sebenarnya isu Brexit ini sudah lama muncul namun baru akhir-akhir ini menjadi fokus alias perhatian investor karena referendum keanggotaan Uni Eropa akan diselenggarakan hari ini 23 Juni 2016.

Lalu, mengapa Inggris mempertimbangkan untuk keluar dari Uni Eropa?

Kita tarik mundur. Pada tahun 1975, Inggris juga pernah mengadakan referendum apakah akan keluar sebagai anggota Uni Eropa atau tetap di dalam Uni Eropa. Pada waktu itu diputuskan, Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa.

Namun ada sekelompok golongan yang merasa bahwa sejak tahun 1975 tersebut, Uni Eropa semakin mengontrol kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, sebagian rakyat Inggris merasa bahwa Inggris terbebani oleh Uni Eropa, di mana Uni Eropa membuat peraturan yang dinilai banyak membatasi bisnis di Inggris.

Hal lain yang menjadi pertimbangan bagi Inggris untuk keluar dari Uni Eropa adalah karena Uni Eropa menarik uang untuk biaya keanggotaan sejumlah miliaran dolar dan Inggris merasa hanya sedikit keuntungan yang diperoleh.

Ada lagi hal lainnya yang menjadi pertimbangan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yaitu salah satu prinsip Uni Eropa tentang ‘Free Movement’ yang membawa banyak imigran datang dan menetap di Inggris.

Nah pertanyaannya adalah, apa dampaknya jika Inggris keluar dari Uni Eropa bagi Inggris dan Eropa sendiri? Apa pula dampaknya pada bursa saham global dan bursa saham di Indonesia pada khususnya ?

Dampak bagi Inggris dan masyarakat Uni Eropa

Keputusan apakah Inggris akan keluar dari Uni Eropa atau tidak menjadi perhatian masyarakat Inggris sendiri dan masyarakat Uni Eropa yang bekerja di Inggris. Ada banyak ketidakpastian yang akan terjadi jika Inggris keluar dari Uni Eropa.

Masyarakat Inggris sendiri akan mempertimbangkan untuk keluar dari Uni Eropa atau tidak, dengan melihat dampak secara perekonomian. Sebagai contoh, masyarakat Inggris akan melihat apakah biaya hidup akan semakin murah setelah keluar dari Uni Eropa?

Apakah bunga KPR akan turun? Dan banyak pertimbangan lain yang masih belum ada jawaban pastinya.

Perlu diketahui, salah satu prinsip Uni Eropa tentang “Free Movement” sebenarnya telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Inggris baik secara positif maupun negatif.

Ada sekitar 800 ribu masyarakat Polandia yang bekerja dan menetap di Inggris, dan belum termasuk sumber daya manusia dari negara lain dari Uni Eropa.

Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka banyak SDM yang berasal dari luar Inggris akan menggantung nasibnya, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.

Selain itu, Inggris sendiri juga akan mengalami “kerugian”. Ekonom mengatakan bahwa, perusahaan di Inggris akan kerepotan untuk mencari posisi pengganti jika banyak SDM yang potensial dari luar Inggris yang dikeluarkan, dan hal itu akan berpengaruh pada perlambatan perekonomian.

Tidak hanya kehilangan “talent” namun Inggris juga akan kerepotan jika banyak SDM di posisi “kecil” dikeluarkan secara massal. Konon, di Inggris, jarang sekali ada orang yang mau bekerja sebagai pelayan toko atau restoran. Posisi seperti itu diisi oleh warga Uni Eropa di luar Inggris.

Saat ini, warga Uni Eropa yang telah menetap dan memiliki mata pencaharian di Inggris sedang harap-harap cemas. Mereka berharap bahwa Inggris tidak jadi keluar dari Uni Eropa.

Dampak bagi Amerika dan Pasar Modal Amerika

Eropa banyak membeli dan menggunakan produk dari beberapa perusahaan di Amerika Serikat (AS) yang terdaftar dalam indeks S&P 500, sehingga hal ini akan memberikan dampak langsung terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.

Namun, investor dan analis di AS tetap percaya, bahwa hal itu tidak akan berpengaruh signifikan dikarenakan barang-barang yang digunakan tersebut kebanyakan berasal dari perusahaan sektor makanan, minuman, dan obat-obatan yang masih akan terus dibutuhkan dan digunakan masyarakat Eropa.

Oleh karena itulah, AS percaya bahwa Brexit tidak akan terlalu berpengaruh pada bursa Amerika dari sudut pandang tersebut.

Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan, terkait nilai tukar mata uang poundsterling, euro, dan dolar AS. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, ada potensi nilai tukar poundsterling dan euro mengalami pelemahan.

Hal itu akan mendorong investor untuk menukarkan investasi dalam bentuk mata uang poundsterling dan euro ke dalam dolar AS, sehingga bisa mendorong nilai tukar dolar AS menjadi semakin tinggi.

Apa dampaknya jika memang terjadi hal tersebut? Apakah positif atau negatif untuk AS?

Menguatnya nilai mata uang sebuah negara, dalam hal ini Amerika, dapat berakibat pada semakin mahalnya harga barang yang diekspor, sehingga menjadi sulit bersaing dengan harga barang secara internasional. Dengan demikian, pendapatan negara dari ekspor menjadi berkurang.

Apa Dampaknya Brexit ini Buat Indonesia?

‘Brexit’ akan berpengaruh pada arus investasi di Indonesia yang datang dari Inggris. Namun dampak tersebut tidak terlalu signifikan, dan akan lebih terasa pada negara-negara di Uni Eropa.

Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, tidak akan berdampak besar terhadap ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.

Senada dengan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Indonesia, Bambang Brodjonegoro mengatakan, ‘Brexit’ akan berdampak pada ekonomi global dan Indonesia juga merupakan bagian dari ekonomi global yang juga akan terkena dampaknya.

Namun, pengaruh Brexit bagi Indonesia tidak akan signifikan dan hanya bersifat sementara atau jangka pendek saja.

Saya pribadi menilai bahwa jika Inggris keluar dari Uni Eropa, tetap akan ada dampak bagi pasar modal Indonesia karena pasar modal Indonesia masih didominasi asing.

Namun, dampaknya tidak akan terlalu signifikan. Tetap masih ada peluang untuk mendapatkan keuntungan di pasar saham dalam kondisi apa pun jika Anda mengerti ilmunya.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan salam profit!

(ang/ang)

Ramai Soal Brexit, Ini Tanggapan Dirut BEI

RifanFinancindo Berjangka

PT RifanFinancindo Berjangka – Saat ini, dunia sedang ramai memperbincangkan soal Brexit atau Britain Exit yang juga mirip dengan istilah keluarnya Yunani/Greek keluar dari Uni Eropa yang disebut Grexit.

Brexit ditengarai akan berdampak pada perekonomian di Inggris maupun Uni Eropa. Salah satu efeknya juga adalah potensi nilai tukar poundsterling dan euro yang mengalami pelemahan, dan dapat berakibat pada semakin mahalnya barang uang akan diekspor, sehingga menjadi sulit untuk bersaing dengan harga barang secara internasional yang membuat pendapatan negara dari ekspor menjadi berkurang.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, efek yang akan dirasakan nantinya untuk Indonesia adalah secara tidak langsung. Ia melihat, hal ini masih ditunggu apakah memang benar dengan keluarnya Inggris dari negara-negara Uni Eropa akan berpengaruh bagi negara sekitarnya atau pun secara global.

“Keputusannya kan hari ini ya. Saya rasa untuk Brexit efeknya ke Indonesia nggak langsung. Kalau ekonomi dunia terganggu ya global terganggu. Kita lihat seberapa besar negara-negara Uni Eropa ini akan terganggu dengan keluarnya Inggris. Tapi saya rasa efeknya nggak langsung,” katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (23/06/16).

Ia menganggap, dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih akan dilihat seberapa besar pengaruhnya ke negara-negara Uni Eropa lainnya.

“Saya sih melihatnya tidak terlalu. Artinya saya melihatnya gini, kita melihat Eropa ini pecah, tadinya kan contohnya dalam Uni Eropa memproduksi misalnya baju/pakaian/apparel harus di anggota Uni Eropa. Jadi persaingannya mereka akan bekerja sama meningkatkan efisiensi. Saya lebih melihat ke pembelajaran. Kalau sampai Inggris keluar, Eropa pecah, negara-negara yang saat ini seperti Yunani yang terbantu kekuatan currency, ekonominya gara-gara Inggris ikut, akan terganggu. Mereka akan kena,” jelas dia.

Untuk itu, ia mengatakan, hal ini dapat dijadikan pembelajaran bagi Indonesia agar lebih solid lagi dalam melakukan kerja sama sehingga dapat merasakan keuntungan yang sama.

“Kan prinsipnya orang Inggris, eh gue lebih untung sendiri daripada sama lu. Saat ini, contohnya saya harus mengatakan kalau kita bicara pasar modal langsung, saya bilang gue setara dulu dong, gue gede dulu, habis sama-sama gede baru. Kalau gue kecil lu gede nanti dulu. Tapi saya sih lebih ke pembelajaran ke kita untuk kompak dan saling menguntungkan saja,” pungkasnya.

 

Sumber : detik.com

Saham Hong Kong Naik Untuk Hari ke- 4 Terkait Meredanya Kekhawatiran Brexit

Rifan Financindo Berjangka

PT Rifan Financindo Berjangka – Saham-saham Hong Kong naik untuk hari keempat berturut-turut pada Rabu ini, karena investor berharap Inggris akan memilih untuk tinggal di Uni Eropa pada referendum minggu ini, sementara pernyataan berhati-hati dari Ketua The Fed Janet Yellen pada kenaikan suku bunga di masa depan juga menenangkan sentimen.

Indeks Hang Seng naik 0,6 persen, ke 20,795.12, sedangkan Indeks China Enterprises naik 0,7 persen, ke 8,763.11 poin.

Saham Asia di luar Jepang naik ditengah kampanye untuk referendum U.K. untuk tetap bertahan di Uni Eropa. Saham di Tokyo turun pada volume rendah karena penguatan yen.

Saham Eropa naik untuk hari keempat di tengah reli saham penambang dan produsen energi, sementara investor meyakini bahwa Inggris akan memilih untuk bertahan di Uni Eropa.

Penambang memimpin kenaikan di antara saham-saham Eropa, dengan Anglo American Plc dan ArcelorMittal naik setidaknya 1,9 persen seiring kenaikan pada harga logam industri. Tullow Oil Plc memimpin perusahaan minyak berada di level yang lebih tinggi seiring berlanjutnya penguatan minyak mentah.

Stoxx 600 Index Eropa naik 0,3 persen pada pukul 08:21 pagi waktu London. Saham ditutup dengan kenaikan terbesar tiga hari dalam hampir 10 bulan kemarin setelah survei menunjukkan perolehan suara untuk kubu ?Bertahan? Uni Eropa menguat. Sementara jajak pendapat terbaru masih terbelah pada hasil, rumah taruhan menempatkan peluang untuk “Bertahan” pada sekitar 80 persen, menurut data Oddschecker. Mereka hanya melihat satu banding empat kesempatan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Stoxx 600 mulai rebound pada hari Jumat seiring meredanya kekhawatiran Brexit di tengah suspensi dalam kampanye setelah pembunuhan anggota parlemen Partai Buruh Jo Cox. Indeks ekuitas telah berjuang untuk mempertahankan momentum setelah rally 16 persen dari level terendah pada Februari sampai ke level tinggi pada 20 April. Indeks ini masih turun 1,9 persen pada Juni, dan berada di jalur untuk penurunan bulanan pertama dalam empat bulan terakhir.

Indeks MSCI Asia Pacific Tidak termasuk Indeks Jepang naik 0,5% menjadi 414,09 pada 17:03 sore di Tokyo. Indeks Singapura, Hong Kong dan China menguat, sementara indeks Topix Jepang turun 0,7%. Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan kepada anggota dewan AS bahwa dia ingin perekonomian untuk berada di “jalur yang menguntungkan” sebelum bank sentral menaikkan suku bunga

Indeks kelas berat Tencent Holdings Ltd naik 2,1 persen, setelah kelompok game terbesar di China tersebut mengatakan bahwa mereka akan membeli saham mayoritas di ‘Clash of Clans’ pembuat mobile game Supercell untuk memperluas kepentingan di luar negeri.(mrv)

Sumber: Reuters