PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Tag Archives: PT Rifan Financindo

Harga Logam Mulia Kembali Meningkat Pada Penutupan Pasar AS

PT Rifan Financindo

 

PT Rifan Financindo – Harga Logam mulia kembali meningkat pada penutupan pasar hari Senin di AS akibat dari melemahnya indeks dollar AS dan menguatnya harga minyak mentah. Harga Emas April di Comex, New York naik $10.10 menjadi $1,325.80 perounce. Harga Perak Maret naik $0.406 menjadi $16.545 perounce.

Pengaruh pasar yang membuat harga emas naik salah satunya adalah pulihnya pasar saham dunia hari Senin kemarin setelah minggu lalu mengalami kerugian. Pada awal minggu ini trader mengharapkan pasar modal akan mengalami tren naik, yang akan sangat mempengaruhi  kenaikan dari logam mulia, terutama emas.

Berita fundamental lain yang mempengaruhi harga emas pada awal minggu ini indeks dolar AS kembali mengalami penurunan, pasar mengharapkan penurunan ini hanya merupakan koreksi dari kenaikan minggu lalu, sementara itu pengaruh kenaikan harga emas juga dari harga minyak mentah di NYMEX menguat, harga minyak juga  dipengaruh penguatan pasar modal.

Secara tehnikal harga emas April ditutup mendekati harga tertinggi hari ini dengan resistant pertama di $1,330 dan berikutnya ke $1,335 sedangkan support pertama di $1,316.30 dan berikut ke $1,309.00.

Resistant pertama pada perak $16.75 dan berikut di $16.955 sedangkan support di $16.28 dan berikutnya di $16.19.

Logam mulia lain yang mengalami peningkatan adalah tembaga, harga tembaga Maret ditutup naik 520 point menjadi 308.55 cent. Harga tembaga ditutup mendekati harga tertinggi hari ini, setelah mencapai harga terendah tujuh minggu pada hari Jumat. Secara tehnikal resistant pertama di 311.90 cent dan berikutnya di 315.00 cent. Support pertama di 304.25 cent dan berikutnya di 302.60 cent. PT Rifan Financindo.

 

Sumber : Vibiznews

Harga Emas Menguat Jelang Rilis Data Ekonomi AS

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas menguat dipicu melemahnya Dolar Amerika Serikat (AS). Namun kenaikan tersebut diperkirakan akan teredam menjelang rilis data inflasi dari Amerika Serikat pada akhir pekan ini. Itu bisa berarti suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan.

Melansir laman Reuters, Selasa (13/2/2018), harga emas di pasar spot naik 0,5 persen menjadi US$ 1.323,16 per ounce. Harga emas telah jatuh lebih dari 3 persen sejak mencapai puncak dalam 17 bulan di posisi US$ 1.366,07 pada Januari. Harga emas berjangka AS naik 0,8 persen menjadi US$ 1.26,40 per ounce.

Kekhawatiran tentang inflasi di Amerika Serikat muncul setelah data pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah yang keluar bulan ini, meningkatkan harapan bahwa pasar tenaga kerja AS akan membaik pada tahun ini.

Adapun data inflasi untuk bulan Januari akan jatuh tempo pada hari Rabu dan Federal Reserve rencananya akan bertemu pada 20-21 Maret.

“Jadi cerita hari ini tentang kebijakan moneter AS dan dolar,” kata Julius Baer, Analis  Carsten Menke.

Dia mengatakan kekhawatiran yang muncul dan bisa mempengaruhi harga emas adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih solid, kenaikan upah dan kekhawatiran The Fed akan dipaksa menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan saat ini.

Pelemahan Dolar terhadap mata uang lainnya, digunakan oleh investor sebagai tempat aman untuk memarkirkan aset di saat volatilitas pasar keuangan.

Maklum, greenback yang lemah membuat emas berdenominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya dan berpotensi mendorong permintaan.

Adapun harga perak pada perdagangan kali ini naik 1,2 persen menjadi US$ 16,55 per ounce. Platina menambahkan 0,7 persen menjadi US$ 971,50 per ounce dan Paladium naik 1,1 persen menjadi US$ 986,97 per ounce. Rifanfinancindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Lesu Terimbas Dolar dan Imbal Hasil Obligasi AS

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Harga emas masih tertekan pada perdagangan Kamis karena kekhawatiran pasar atas kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), dan tingkat suku bunga global.

Mengutip Reuters, Jumat (9/2/2018), harga emas di pasar spot tidak berubah di level US$ 1.318,12 per ounce pada pukul 1.53 waktu New York. Harga ini sudah naik dari level terendahnya sejak 2 Januari lalu di posisi US$ 1.306,81.

Harga emas yang bergerak mendatar ini dipengaruhi imbal hasil obligasi AS menyusul kenaikan inflasi yang mendekati level tertinggi selama empat tahun.

Selain itu, setelah Bank Sentral Inggris mengisyaratkan kenaikan agresif tingkat suku bunga sehingga mendorong bank sentral di seluruh dunia ikut menyesuaikan suku bunga.

“Kenaikan imbal hasil obligasi riil telah menekan (harga) emas,” kata Analis Carsten Menke, Julius Baer.

Penguatan dolar AS juga masih membebani harga emas. Padahal, harga emas pernah mencatatkan reli ke harga tertinggi dalam satu sampai dua tahun ke posisi US$ 1.366,07 per ounce di akhir Desember dan awal Januari ini.

Penguatan kurs dolar AS mendorong mata uang tersebut menjadi mahal bagi pengguna. Suku bunga yang lebih tinggi pun akan mengurangi daya tarik emas, sehingga harganya turun.

Tekanan terhadap harga emas semakin dalam setelah pernyataan The Fed bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS tidak bisa dihindari seiring penguatan ekonomi AS.

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman April naik 0,3 persen atau US$ 4,40 di posisi US$ 1.319 per ounce.

Harga perak meningkat 0,4 persen di posisi US$ 16,43 per ounce setelah menyentuh level terendah sejak 22 Desember di level US$ 16,22 per ounce. Sedangkan harga platinum merosot 1,9 persen menjadi US$ 976,30 per ounce. Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Melemah Tersengat Imbal Hasil Obligasi

PT Rifan Financindo

 

PT Rifan Financindo – Harga emas alami koreksi hingga sentuh level terendah dalam satu bulan. Tekanan harga emas itu didorong indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil surat berharga AS naik.

Harga emas untuk pengiriman April melemah US$ 14,90 atau 1,1 persen ke posisi US$ 1.1314,10 per ounce. Level harga emas itu sentuh level terendah sejak 9 Januari.

Harga emas gagal untuk berbalik arah lantaran volatilitas di aset berisiko. Sementara itu, harga peras melemah 34,2 sen atau 2,1 persen ke posisi US$ 16.238 per ounce.

“Sulit untuk mengatakan harga emas bergerak baik mengingat pasar saham tetap tidak jelas meski pemulihan terjadi pada perdagangan Selasa,” ujar Konsultan INTL FC Stone, Edward Meir, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (8/2/2018).

“Emas tidak terlalu berkinerja baik saat saham tertekan.Sementara tampaknya mudah merosot usai reli tajam di saham. Ini mungkin menunjukkan kalau emas lebih rentan terhadap sisi negatifnya, terutama jika pasar saham stabil,” tambah dia.

Indeks dolar AS naik 0,8 persen ke posisi 90,31. Imbal hasil surat berharga atau obligasi bertenor 10 tahun naik menjadi 2,83 persen. Investor telah menunjukkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan pasar saham dan kenaikan inflasi.

Kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun terjadi usai laporan pekerjaan pada Januari yang menunjukkan lonjakan pertumbuhan upah. Hal itu memicu kekhawatiran inflasi sehingga mendorong spekulasi kekhawatiran the Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan.

Analis menekankan risiko inflasi mendorong imbal hasil obligasi. Ini bisa mempengaruhi harga emas. Pelaku pasar menekankan kalau harga emas dan komoditas lainnya dapat bertahan baik dibandingkan emas.

“Pasar saham menerjang kekhawatiran inflasi dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Namun komoditas dan terutama emas bertahan,” ujar Will Rhind, Chief Executive GranteShares.

Harga Emas pada Perdagangan Kemarin

Sebelumnya, harga emas turun 1 persen ke level terendah dalam hampir tiga minggu pada perdagangan selasa karena investor fokus pada ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip Reuters, Rabu 7 Februari 2018, harga emas di pasar spot turun 1 persen ke US$ 1.326,51 per ounce pada pukul 2.41 waktu New York, menghapus kenaikan 0,5 persen pada perdagangan Senin.

Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman April turun US$ 7 atau 0,5 persen menjadi US$ 1.329,50 per ounce.

“Harga emas tertekan karena adanya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi pada tahun ini,” jelas analis Dillon Gage Metals, Walter Pehowich.

Kenaikan suku bunga acuan AS akan mendorong kenaikan inbal hasil obligasi dan menakan harga emas. Alasannya, emas hanya memberikan keuntungan di kenaikan harga saja.

Sedangkan obligasi selain memberikan keuntungan di kenaikan harga juga memberikan keuntungan bunga.

Dengan kenaikan suku bunga acuan AS maka emas harus berjuang melawa obligasi dan seperti biasanya investor akan memilih obligasi. PT Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Tergelincir karena Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas turun 1 persen ke level terendah dalam hampir tiga minggu pada perdagangan selasa karena investor fokus pada ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Mengutip Reuters, Rabu (7/2/2018), harga emas di pasar spot turun 1 persen ke US$ 1.326,51 per ounce pada pukul 2.41 waktu New York, menghapus kenaikan 0,5 persen pada perdagangan Senin.

Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman April turun US$ 7 atau 0,5 persen menjadi US$ 1.329,50 per ounce.

“Harga emas tertekan karena adanya ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi pada tahun ini,” jelas analis Dillon Gage Metals, Walter Pehowich.

Kenaikan suku bunga acuan AS akan mendorong kenaikan inbal hasil obligasi dan menakan harga emas. Alasannya, emas hanya memberikan keuntungan di kenaikan harga saja.

Sedangkan obligasi selain memberikan keuntungan di kenaikan harga juga memberikan keuntungan bunga.

Dengan kenaikan suku bunga acuan AS maka emas harus berjuang melawa obligasi dan seperti biasanya investor akan memilih obligasi.

Perdagangan kemarin
Seorang pekerja mengangkat emas batangan 99,99 murni yang selesai dicetak di pabrik logam mulia Krastsvetmet, Rusia, 24 Oktober 2016. Krastsvetmet merupakan salah satu produsen terbesar di dunia dalam industri logam mulia (Reuters/Ilya Naymushin)

Pada perdagangan kemarin harga emas menguat terpicu anjloknya pasar saham yang mendorong kenaikan logam mulia. Kenaikan terjadi usai harga emas susut menuju penurunan terbesar satu hari dalam dua bulan di sesi sebelumnya.

“Emas akan mulai diperhatikan sebagai lindung nilai saat inflasi lebih dari sebelumnya, karena pasar saham nampaknya tidakhanya dalam aksi jual, tapi kemungkinan mengambil keuntungan,” kata George Gero, Managing Director RBC Wealth Management di New York.

Bursa saham AS memperpanjang aksi jual mereka setelah mencapai penurunan pada Jumat, dipicu imbal hasil obligasi dan prospek kenaikan inflasi.

Adapun harga perak naik 0,8 persen menjadi US$ 16,72 per ounce. Ini mencatat angka terendah lima minggu dalam sesi sebelumnya.

Sementara harga Platinum mendatar di US$ 986,24 per ounce, masih mendekati level terendah tiga minggu, sementara paladium turun 1,5 persen menjadi US$ 1.031,20. Rifanfinancindo.

 

Sumber : Liputan 6