PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Sentimen Regional Masih Bebani Bursa Asia

(Foto: Reuters)

PT. Rifan Financindo Berjangka, New York – Sebagian besar saham-saham di kawasan Asia Pasifik (Bursa Asia) melemah. Penurunan tersebut dipengaruhi sentimen kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), utang Yunani dan penguatan mata uang yen Jepang.

Mengutip Bloomberg, Selasa (9/6/2015), Indeks MSCI Asia Pasifik turun menjadi 147,09.01 waktu Tokyo, Jepang. Setiap 1 saham yang menguat mendapat perlawanan dari 3 saham yang melemah.

Indeks Topix Jepang turun 0,8 persen, setelah nilai tukar yen terhadap dolar AS menguat 0,9 persen. Penguatan nilai tukar yen tersebut membuat investor melihat bahwa laba yang dibukukan oleh perusahaan-perusahaan Jepang bisa tertekan karena kinerja ekspor terganggu penguatan yen tersebut.

Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,1 persen, Indeks NZX Selandia Baru turun 0,3 persen, Indeks S&P/ASX Australia melemah 0,1 persen setelah libur satu hari. Pasar China dan Hong Kong belum dibuka.

Sentimen utama yang menekan Bursa Asia datang dari Amerika Serikat. Perbaikan data tenaga kerja yang diumumkan pada akhir pekan lalu menaikkan taruhan bahwa Bank Sentral AS akan segera menaikkan suku bunga pada tahun ini juga.

Sebelumnya, buruknya data-data ekonomi di Amerika selama kuartal I 2015 meyakinkan pelaku pasar bahwa kemungkinan besar Bank Sentral Amerika belum akan menaikkan suku bunga di tahun ini. Kenaikan suku bunga tersebut akan memicu dana-dana yang ada di negara lain pulang ke kampung halaman.

Sentimen lain yang juga menekan Bursa Asia datang dari Yunani. Perdana Menteri Jerman Angela Merkel meminta kepada pemerintahan Yunani untuk setera menyelesaikan permasalahan utang. Pada pekan kemarin, Pemerintah Yunani menolak paket kebijakan yang diajukan oleh Uni Eropa.

“Pasar terkoreksi karena mengantisipasi kenaikan suku bunga AS ke level yang lebih tinggi untuk pertama kalinya sejak krisis,” jelas Kepala Investasi? Wells Capital Management, New York, AS, Kirk Hartman.

Hartman menambahkan, masalah Yunani ini sebenarnya masalah lama yang terus berulang-ulang. Tak ada kesepakatan yang bisa didapat antara kedua belah pihak. Semakin panjang kata sepakat tercapai maka semakin dalam juga bursa akan tertekan. (Gdn/Nrm)

 

Sumber : Liputan 6