PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Sentimen dari China Berakhir, Bursa Asia Bergerak Tak Seirama

Bursa Saham Asia-2

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Jakarta – Saham-saham di kawasan Asia Pasifik (bursa Asia) bergerak tak seirama. Saham sektor kesehatan mampu bergerak positif sedangkan saham di sektor energi tertekan. Penguatan bursa Asia yang terjadi pada perdagangan kemarin tak berlanjut pada hari ini.

Mengutip Bloomberg, Kamis (9/4/2015), indeks MSCI Asia Pasifik tergelincir 0,1 persen menjadi 150,96 pada pukul 09.18 waktu Tokyo, Jepang. Indeks patokan regional ini kemarin naik ke level tertinggi sejak Juni 2008 karena saham-saham perusahaan China yang terdaftar di Bursa Hong Kong melonjak.

Indeks Topix Jepang hanya sedikit berubah. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,2 persen. Indeks S&P/ASX 200 Australia dan Indeks NZX 50 Selandia Baru juga hanya bergeser sedikit. Pasar saham China dan Hong Kong belum dibuka.

Analis Patersons Securities Ltd, Sydney, Australia, Tony Farnham menjelaskan, pada perdagangan kemarin indeks di kawasan Asia memang terdongkrak karena sentimen dari China. Namun sentimen tersebut tidak bisa terus diandalkan untuk mendongkrak indeks.

“Investor harus melihat kembali secara fundamental apakah pertumbuhan indeks sudah seirama dengan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, setelah perhatian sedikit tersita oleh China, investor akan kembali melihat ke bursa regional. Oleh karena itu, menurutnya bursa Amerika akan menjadi patokan sentimen berikutnya.

Pada penutupan perdagangan kemarin, Wall Street bergerak menguat.? Indeks Standard & Poor 500 naik 0,3 persen menjadi 2.081,84 waktu New York, AS. Indeks Nasdaq juga menguat 0,8 persen didukung penguatan saham-saham biotek dalam dua hari terakhir.

Penguatan wall Street tersebut karena ada perbedaan pendapat mengartikan sinyal-sinyal dari Bank Sentral Amerika Serikat. Pada pertemuan bulan lalu, Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen yakin untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Pasalnya, data-data yang ada menunjukkan bahwa perbaikan ekonomi di negara tersebut sudah berjalan sesuai dengan rencana.

Namun keyakinan tersebut langsung runtuh di awal bulan ini setelah keluarnya data mengenai angka tenaga kerja yang tidak seperti yang direncanakan. Beberapa pejabat The Fed melihat data angkatan kerja yang jauh dari target tersebut akan membuat rencana kenaikan suku bunga harus ditunda hingga akhir tahun nanti. Namun beberapa pejabat lain tetap yakin bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan segera pada semester II 2015. (Gdn)

 

Sumber : Liputan 6