PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Referendum Yunani Bikin Bursa Saham Asia Tergelincir

(Foto: Reuters)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Sentimen Yunani mempengaruhi laju bursa saham Asia di awal pekan ini. Yunani menentang menerima penghematan lebih lanjut sehingga meningkatkan kemungkinan negara itu keluar dari zona Euro.

Indeks saham MSCI Asia Pacific melemah 0,5 persen menjadi 145,65 pada pukul 09.01 waktu Tokyo. Penurunan indeks saham acuan regional ini juga diikuti indeks saham Jepang Topix merosot 1,5 persen seiring Yen menguat 1,2 persen terhadap Euro. Indeks saham Jepang Nikkei turun 1,7 persen ke level 20.200,15 di awal perdagangan saham.

Penurunan indeks saham juga diikuti indeks saham Australia tergelincir 1,7 persen ke level 5.442,10. Indeks saham Korea Selatan Kospi melemah 1,3 persen. Indeks saham Selandia Baru NZX merosot ,06 persen.

Sentimen Yunani mempengaruhi laju bursa saham Asia di awal pekan ini. Pemerintah Yunani menggelar referendum pada 5 Juli 2015. Sekitar 61 persen pemilih mendukung penolakan Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras tentang pemotongan belanja dan kenaikan pajak lebih lanjut. Hal ini membuat negara tersebut berada di jurang kehancuran keuangan. Riset JP Morgan menyebutkan skenario mendasar adalah Yunani bakal keluar dari zona Euro.

“Ada berbagai macam hasil tak terduga. Ini mengejutkan terutama hasil referendum yang begitu meyakinkan. Hal ini menempatkan risiko apalagi ditambah sentimen China,” kata Kepala Riset Craigs Investment Partners Ltd, Mark Lister,” seperti dikutip dari laman Bloomberg, Senin (6/7/2015).

Sementara itu, Presiden Uni Eropa Donald Tusk akan menggelar KTT zona Euro pada Selasa pekan ini. Dewan pemerintahan bank sentral Eropa akan berbicara di awal pekan ini apakah akan tetap mendukung memberi pinjaman ke Yunani.

Di Asia, China mulai menangguhkan penawaran umum saham perdana. Para broker pun akan membeli saham untuk menghentikan penurunan indeks saham dalam tiga minggu ini. Indeks saham China jatuh membuat kapitalisasi pasar susut sekitar US$ 3,2 triliun sehingga pasar khawatir terhadap hal tersebut. Apalagi valuasi saham telah mahal. Di pasar komoditas, harga minyak West Intermediate melemah 4,4 persen menjadi US$ 54,44 per barel. (Ahm/)

 

 

Sumber : Liputan 6