PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Penguatan Saham di Pasar Jepang Dorong Bursa Asia Menguat

(Foto: Reuters)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Bursa Jepang menguat dalam dua hari terakhir karena pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu pekan ini. Penguatan bursa Jepang ini mendorong bursa Asia ke level yang lebih tinggi.

Mengutip Bloomberg, Rabu (18/11/2015), Indeks MSCI Asia Pasifik menguat 0,3 persen. Indeks Topix Jepang juga terdorong 0,7 persen pada pukul 09.33 waktu Tokyo, Jepang. Saat ini Indeks Topix menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir yaitu di level 1.599,20.

Di kawasan lain, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,2 persen untuk ketiga kalinya dalam empat hari terakhir. Sedangkan Indeks S&P/NZX 50 Selandia Baru naik tipis yaitu kurang dari 0,1 persen. Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,3 persen.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global telah menyebabkan kelebihan pasokan komoditas seperti tembaga dan juga minyak mentah. Kemerosotan pertumbuhan ekonomi global tersebut membuat pelaku pasar khawatir ekonomi global bakal deflasi.

Kehawatiran tersebut tetap ada meskipun Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia menunjukkan kenaikan angka inflasi pada bulan lalu. Penguatan inflasi AS tersebut sesuai dengan perkiraan Bank Sentral AS (the Fed).

Saat ini, pelaku pasar sedang menunggu dua sentimen besar. Pertama adalah hasil pertemuan Bank Sentral Jepang. Rencananya Bank Sentral Jepang memang akan menggelar pertemuan dalam dua hari untuk membahas kebijakan moneter yang akan dijalankan ke depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sedangkan sentimen kedua adalah keluarnya ringkasan rapat the Fed yang dilangsungkan pada bulan lalu. “The Fed menjadi fokus pelaku pasar saat ini,” jelas Analis CMC Markets Asia Pacific Pty, Ric Spooner.

Ia melanjutkan, banyak prediksi bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember tahun ini. Pertanyaan yang hadir di kalangan para ekonom dan para analis adalah apakah mereka mampu melakukan hal tersebut.

Pernyataan tersebut muncul karena dengan kenaikan suku bunga atau pengetatan kebijakan moneter maka berdampak positif kepada perekonomian mereka dan juga dunia. (Gdn/Nrm)

 

 

Sumber : Liputan 6