PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Parlemen Yunani Setuju Bailout, Bursa Saham Asia Menghijau

(Foto: Reuters)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini didorong sentimen anggota parlemen Yunani memilih mendukung persyaratan untuk dana talangan baru. Hal itu meredakan kekhawatiran atas kemungkinan Yunani keluar dari kawasan Euro.

Indeks saham MSCI Asia Pacific menguat 0,1 persen pada pukul 09.21 waktu Tokyo, kenaikan indeks saham ini kelima kalinya dalam enam hari. Indeks saham acuan ini ditopang dari penguatan bursa saham Jepang dan Australia.

Indeks saham Jepang Nikkei dibuka naik 0,6 persen ke level 20.588,98. Diikuti indeks saham Jepang Topix mendaki 0,5 persen ke level 1.654,93 di awal perdagangan saham. Indeks saham Australia mendaki 0,6 persen ke level 5.669,10. Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi sedikit berubah.

Akan tetapi bursa saham China melanjutkan pelemahan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng melemah 0,5 persen ke level 24.926,04. Indeks saham Shanghai turun 1,6 persen ke level 3.745,19. Sedangkan bursa saham Indonesia libur hingga Selasa depan.

Sementara itu, imbal hasil surat utang tenor 10 tahun melemah dalam dua hari terakhir. Euro kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekitar 0,1 persen. Hal itu diikuti mata uang Selandia Baru yang turun ke level terendah setelah rilis data inflasi dan harga susu turun memicu kekhawatiran terhadap ekonomi Selandia Baru.

Adapun sentimen Yunani masih mempengaruhi laju bursa saham Asia. Parlemen Yunani akhirnya menyetujui bailout atau dana talangan. Setelah lebih dari empat jam perdebatan, 229 anggota parlemen dari 300 kursi menyetujui langkah-langkah penghematan baru. Saat ini fokus pelaku pasar kepada bank sentral Eropa apakah akan memperkuat sistem keuangan negara.

“Tema makro tentu tidak dapat dihapus dari berita utama. Adanya kejelasan dari China dan [Yunani](2271858/ “”) menjadi fokus utama pada 2015,” ujar Evan Lucas, Analis IG Ltd, seperti dikutip dari laman Bloomberg, Kamis (16/7/2015).

Sementara itu, pelaku pasar mengabaikan komentar pimpinan bank sentral AS Janet Yellen. Yellen mengharapkan ekonomi AS dapat tumbuh di sisa tahun ini. Hal itu agar The Fed dapat menaikkan suku bunga. (Ifshan Lukman/Ahm)

 

Sumber : Liputan 6