PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Outlook Emas Jangka Pendek 3 Desemeber 2018

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Investor dan partisipan pasar minggu lalu memfokuskan diri kepada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping pada pertemuan tingkat tinggi G20 yang berlangsung di Buenos Aires, Argentina.

Pertemuan tingkat tinggi G20 yang berlangsung sejak hari Jumat minggu lalu telah memberikan keberhasilan dalam bentuk penandatangan persetujuan perdagangan yang baru antara Amerika Serikat, Mexico dan Kanada yang dahulu dikenal dengan nama NAFTA.

Emas berjangka Comex kontrak Desember pada hari Jumat minggu lalu diperdagangkan turun sekitar $2,60 dari hari sebelumnya pada $1,227.80, masih diatas level “support” saat itu dimana secara mingguan harga emas diakhiri dengan naik sedikit lebih tinggi.

Emas spot diperdagangkan lebih baik pada hari Jumat minggu lalu dengan hanya mengalami kerugian $1.80. Penelitian yang lebih dalam, menunjukkan bahwa penurunan harga emas pada hari Jumat minggu lalu dibandingkan hari Kamis, 100% disebabkan oleh menguatnya dolar AS. Menurut Kitco Gold Index, penguatan dolar AS menyebabkan turunnya harga emas sebanyak $5.30. Namun meningkatnya pembelian menyebabkan kenaikan harga emas sebanyak $3.50, yang menghasilkan emas mengalami kerugian bersih sebanyak $1.80 pada satu hari Jumat tersebut.

Semua Mata Tertuju Kepada G20

Saat ini, pemimpin Cina dan Amerika Serikat memegang semua kartu. Trump dan Xi bertemu berdua untuk mendapatkan resolusi yang menyenangkan dan untuk mengakhiri perang dagang yang telah begitu merugikan ekonomi global.

Walaupun retorika kedua belah pihak telah begitu kasar karena kedua pemimpin memposisikan diri mereka masing-masing untuk mendapatkan keuntungan yang paling banyak selama diskusi berlangsung, kemungkinan Trump untuk mendapatkan kesepakatan kelihatannya menguntungkan menurut analis dan pejabat level tinggi.

Menurut Wall Street Journal, “kedua belah pihak telah terlibat dalam pembicaraan selama berminggu-minggu dan sedang mencari dan membentuk suatu arsitektur yang baru setelah pertemuan tingkat tinggi G20 pada akhir minggu lalu, yang memberikan daftar yang panjang dari isu-isu yang dimiliki Amerika sehubungan dengan kebijakan ekonomi dan perdagangan Cina.

Pada saat yang bersamaan, Cina sedang berusaha untuk menopang ekonomi mereka. PMI Cina berada pada 50.02, level terendah sejak bulan November 2016 menurut Bloomberg. Derek Scissors, seorang ekonom di American Enterprise Insitute, mengatakan,”Pertumbuhan ekonomi AS lebih cepat pada tahun 2018 dibandingkan dengan 2017, sementara pertumbuhan Cina melambat, jadi dalam hal ini, Amerika Serikat berada dalam posisi yang lebih baik.“

Jika berita dari Argentina positip, maka kita akan melihat dolar AS berada dibawah tekanan yang dramatis dan memberikan banyak keuntungannya kembali yang diperoleh selama pertikaian dagang bermetamorforsa menjadi perang dagang. Dan hal ini tentunya akan membuat harga emas menjadi sangat “bullish”.

Pertemuan Donald Trump Dengan Xi Jinping

Pertemuan yang sangat dinantikan yang disertai makan malam antara Presiden AS dan Presiden Cina Xi Jinping pada hari Sabtu minggu lalu, berakhir dengan nada yang positip. Diskusi mengenai penurunan ketegangan antara kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia berlangsung dua jam lebih lama daripada yang diperkirakan. Sementara hasil detilnya masih akan dirilis, kedua belah pihak nampaknya puas pada akhir dari pertemuan, dengan terdengar sorak sorai di dalam ruangan ketika makan malam mendekati akhir. Pada saat akan duduk berdampingan dengan Trump, Xi mengatakan bahwa dia sangat senang bertemu dengan rekannya dari Amerika Serikat setelah konklusi dari pertemuan tingkat tinggi G20.

Media yang dikontrol oleh pemerintah China Daily dan Chinese international broadcaster CGTN, kedua-duanya berkata bahwa Trump dan Xi sepakat untuk tidak menambah tarif tambahan “setelah 1 Januari” – ketika Washington bersiap untuk menaikkan tarif atas $200 miliar barang-barang impor dari Cina dari 10% menjadi 25%.

Investor emas tidak mempunyai banyak waktu untuk istirahat pada akhir minggu lalu karena nada dari pertemuan G20 pada hari Sabtu bisa menentukan pergerakan harga dari metal berjangka dalam jangka pendek.

Secara khusus, analis komoditi dan para ekonom untuk menaruh perhatian dengan seksama terhadap pertemuan makan malam antara Presiden Donald Trump dnegan Presiden Cina Xi Jinping, dimana hampir setahun, kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini telah terlibat dalam perang dagang yang meningkat.

Menurut sebagian analis, ekspektasi pasar yang rendah bisa positip bagi emas di dalam jangka pendek. Jasper Lawler, kepala riset di London Capital Group berkata bahwa setiap pengurangan ketegangan di dalam perdagangan akan berpengaruh negatif terhadap dolar AS dan positip bagi emas.

Walaupun redanya ketegangan perdagangan akan menjadi positip bagi assets yang beresiko, hal ini tidak akan terlalu banyak mempengaruhi emas karena kelemahan dolar AS yang akan menjadi pengemudi yang lebih penting bagi metal.

Fawad Razaqzada, analis tehnikal di City Index mengatakan,”setiap perkembangan yang positip setelah perjamuan makan malam akan menjadi kabar baik bagi emas.”

Diperbaharuinya optimisme untuk emas datang pada waktu yang krusial pada saat metal berharga sedang berjuang untuk menemukan momentum dan arahan yang jelas.

Wall Street & Main Street

Wall Street dan Main Street kedua-duanya memandang emas akan naik pada minggu ini, berdasarkan pada survei emas mingguan dari Kitco News.

Para trader dan analis menunjuk kepada pernyataan yang “dovish” pada minggu lalu dari Gubernur Federal Reserve Jerome Powell, yang menciptakan kesan bahwa kenaikan tingkat bunga di dalam siklus pengetatan sekarang ini akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang sebelumnya telah dipikirkan. Sebagian yang lain optimis akan ada kemajuan di dalam pembicaraan perdagangan Amerika Serikat dan Cina, dengan demikian melemahkan kekuatan dolar AS.

11 responden dari 16 profesional pasar yang mengambil bagian di dalam survei Wall Street atau 69% memprediksi kenaikan harga emas pada minggu ini. Ada satu suara atau 6% yang melihat harga emas akan turun sementara 4 responden atau 25% memandang sebagai “sideways”.

Sementara, sebanyak 269 responden dari total 476 orang yang merespon terhadap polling Main Street, memandang emas akan naik. 122 lainnya atau 26% memprediksi emas akan jatuh. Sisanya sebanyak 85 pemberi suarau atau 18% memandang sebagai “sideways”.

Seam Lusk, direktur Commercial Hedging di Walsh Trading mengatakan,”Jalan dari resistance yang paling sedikit, meningkat. Dengan segala sesuatu yang sedang terjadi di Washington, siapa yang ingin memasang posisi jual?”

Adrian Day, ketua dan CEO dari Adrian Day Asset Management, juga berkata emas akan naik.

Day mengatakan,”Jelas sikap Federal Reserve yang terbaru yang lebih dovish terhadap tingkat bunga AS adalah positip untuk emas, sekalipun banyak dari pergerakannya sudah diperhitungkan dalam kenaikan harga. Sebagai tambahan, kekacauan geopolitik yang berlangsung di Eropa, atas Brexit dan Itali, ketegangan dengan Rusia, dan dimanapun mendukung emas.”

Dewan Perwakilan Rakyat dari Demokrat mengancam akan mengadakan investigasi yang tidak berhenti terhadap segala sesuatu yang dari Trump, dan hal ini kan memukul dolar AS dan menolong emas, khususnya jika hal ini mengarah kepada proses “impeachment”.

Jasper Lawler, kepala riset di London Capital Group juga “bullish” terhadap emas di dalam jangka pendek, karena setiap perkembangan yang positip antara AS dan Cina pada akhir minggu lalu akan mengambil alih momentum kenaikan dolar AS.

Jeanie Simpson, managing director dari ABC Bullion mengatakan,”Kami berpikir tren jangka pendek masih tetap positip. Daily Cloud sekarang berada pada $1,221 dan Daily Standard and Turning line supports juga hampir identik disekitar $1,220.

Harga emas jangka pendek telah berubah menjadi “bullish” dan target kenaikan sampai $1233 yang apabila tertembus akan menuju ke $1,236. Target turun menuju $1,217 dan $1,212, namun target naik kelihatannya lebih mungkin terjadi. Rifanfinancindo.

 

 

Sumber : Vibiznews