PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Menunggu Rapat Bank Sentral Eropa, Bursa Asia Melemah

Sejumlah orang tercermin dalam papan yang menampilkan indeks saham di Tokyo, Jepang, Jumat, (10/7/ 2015). Harga saham Nikkei mengalami perubahan mengikuti gejolak pasar Tiongkok. (REUTERS/Thomas Peter)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Sydney – Saham-saham di kawasan Asia Pasifik (bursa Asia) melemah pada perdagangan Rabu pekan ini. Pelemahan bursa Asia terimbas sentimen negatif dari bursa Amerika (Wall Street). Selain itu, pelaku pasar lebih memilih untuk menunggu hasil rapat dari Bank Sentral Eropa yang akan berlangsung pada akhir pekan ini.

Mengutip Reuters, Rabu (21/10/2015), Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah tipis sebesar 0,07 persen. Bursa Australia juga kehilangan kekuatan sehingga turun 0,2 persen karena kehawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi China dan penurunan harga komoditas.

Menengok ke Wall Street, Indeks saham Dow Jones industri secara rata-rata turun 13,43 poin atau 0,08 persen ke 17.217,11. Sementara S&P kehilangan 2,89 poin atau 0,14 persen ke 2.030,77 dan Nasdaq composite juga menurun 24,50 poin atau 0,5 persen ke 4.8990,97.

Sebenarnya angka-angka ekonomi Amerika cukup positif dimana angka hunian mulai naik 6,5 persen pada September kemarin sehingga menyentuh level 1,21 juta unit, di atas konsensus pasar yang berada di level 1,15 juta unit.

Namun sentimen negatif di bursa AS lebih disebabkan karena ekpektasi pelaku pasar akan laporan keuangan perusahaan yang diperkirakan tidak menunjukkan hasil positif semua.

Sedangkan dari Eropa, kemungkinan besar Bank Sentral Eropa akan kembali melakukan pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

“Konsensus dari para ekonom memperlihatkan bahwa Bank Sentral Eropa akan mengeluarkan kebijakan yang moderat, menyusul program quantitative easing yang sedang berlangsung saat ini” jelas Analis Citi Financial.

Pada perdagangan kemarin, bursa Asia?juga merosot dipicu harga komoditas tertekan seiring pertumbuhan ekonomi China melambat. (Gdn/Zul)

 

 

Sumber : Liputan 6