PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Mengekor Bursa Asia, IHSG Dibuka di Zona Hijau

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11).  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Kamis pekan ini.

Pada pembukaan perdagangan saham, Kamis (21/1/2016), IHSG naik 30,6 poin atau 0,71 persen menjadi 4.459,89. Indeks saham LQ45 juga menguat 0,97 persen ke level 776,40. Seluruh indeks saham acuan kompak berada di zona hijau pada pagi ini.

Di awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 4.463,02 dan terendah 4.447,75. Ada sebanyak 76 saham berada di zona positif sehingga mengangkat IHSG ke zona hijau. Sedangkan 27 saham meelemah dan 36 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 7.349 kali dengan volume perdagangan saham 144,4 juta saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 224 miliar.

Berdasarkan RTI, investor asing melakukan aksi beli Pada Rabu pagi, investor asing melakukan aksi jual bersih mencapai Rp 30 miliar. beli Sedangkan investor lokal melakukan aksi jual bersih mencapai Rp 30 miliar.

Dari 10 sektor pembentuk indeks, hampir seluruhnya berada di zona hijau dengan sektor industri dasar dan aneka industri memimpin penguatan. Hanya satu indeks yang berada di zona merah yaitu sektor perdagangan.

Saham-saham yang menguat dan sebagai penggerak indeks saham antara lain saham ETWA yang naik 15,94 persen ke level Rp 80 per saham, saham KICI mendaki 5,35 persen ke level Rp 260 per saham, dan saham PSAB naik 10,89 persen ke level Rp 1095 per saham.

Sedangkan saham-saham tertekan antara lain saham SSTM turun 9,52 persen ke level Rp 57 per saham, saham VIVA tergelincir 7,60 persen ke level Rp 231 per saham dan saham PJAA merosot 3,50 persen ke level Rp 1.930 per saham.

Analis PT First Asia Capital David Sutyanto mengatakan, tekanan jual di pasar saham Asia kemarin dipicu kekhawatiran memburuknya perekonomian global tahun ini setelah IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,4% dari proyeksi sebelumnya 3,6%.

“Perlambatan perekonomian China menjadi faktor utama perlambatan ekonomi global tahun ini dan anjloknya harga minyak mentah. Berlanjutnya kekhawatiran memburuknya perekonomian China dan kembali anjloknya harga minyak mentah tadi malam masih menekan pergerakan pasar saham global,” katanya.

“Kondisi pasar global dan kawasan yang ditandai meningkatnya resiko, akan kembali menekan pergerakan indeks hari ini. IHSG diperkirakan akan bergerak di 4410 hingga 4470 cenderung di teritori negatif menyusul minimnya insentif positif dan meningkatnya resiko capital outflow,” imbuhnya. (Zul/Ahm)

 

 

Sumber : Liputan 6