PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Krisis Yunani Terus Tekan Bursa Asia

Bursa saham Asia bergerak menguat dengan indeks saham acuan MSCI Asia Pacific naik 0,5% pada Senin pekan ini.

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Jakarta – Saham-saham di kawasan Asia Pasifik (Bursa Asia) melemah untuk kelima harinya dengan indeks patokan regional menuju pelemahan kedua secara mingguan menyusul pelemahan yang terjadi di Wall Street akibat Yunani meminta penangguhan pembayaran utang.

Mengutip Bloomberg, Jumat (5/6/2015), Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,3 persen menjadi 148,85 pada pukul 09.01 waktu Tokyo, Jepang. Dengan penurunan pada pembukaan ini, Bursa Asia telah melemah 1,7 persen dalam pekan ini.

Wall Street yang ditandai dengan Standard and Poor 500 Index pada perdagangan Kamis (4/6/2015) kemarin turun karena Yunani untuk pertama kalinya sejak 1980 mengajukan penundaan pembayaran utang kepada International Monetary Fund (IMF). Dow Jones Industrial Average turun 170,69 poin (0,94 persen) ke level 17.905,58.

Indeks Topix Jepang tergelincir 0,7 persen, Indeks S&P/ASX 200 turun 0,1 persen. Indeks NZX 50 Selandia Baru merosot 0,4 persen. Hal yang saja juga terjadi dengan Indeks Kospi Korea Selatan yang melemah 0,4 persen. Bursa China dan Hong Kong belum dibuka.

“Yunani meminta penundaan pembayaran utang memang bukan sentimen yang positif,” jelas Analis CMC Markets, Sydney, Australia, Michael McCarthy. Dengan adanya sentimen tersebut, ia memperkirakan di akhir pekan ini sebagian besar bursa regional akan berada di zona merah.

Investor juga mencerna komentar IMF yang mendesak Federal Reserve untuk tidak menaikkan suku bunga sampai ada tanda-tanda yang jelas dari kondisi kenaikan upah dan inflasi di Amerika Serikat.

Pada perdagangan kemarin, Bursa Asia juga melemah karena dipicu aksi jual investor setelah Gubernur Bank Sentral Eropa menyatakan bahwa seharusnya dalam kondisi saat ini pelaku pasar sudah terbiasa dengan kenaikan dan penurunan pasar keuangan dan pasar saham yang cepat.

Volatilitas yang tinggi tersebut sudah menjadi risiko yang harus dihadapi oleh pasar. Komentar dari Gubernur Bank Sentral Eropa tersebut menanggapi belum jelasnya mengenai penyelesaian utang Yunani. (Gdn/Nrm)

 

Sumber : Liputan 6