PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Investor Cemas Terhadap Ekonomi China Bikin Bursa Asia Jatuh

Sejumlah orang tercermin dalam papan yang menampilkan indeks saham di Tokyo, Jepang, Jumat, (10/7/ 2015). Harga saham Nikkei mengalami perubahan mengikuti gejolak pasar Tiongkok. (REUTERS/Thomas Peter)

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Aksi jual di bursa saham tidak berhenti termasuk di Asia dengan indeks saham acuan regional meluncur ke level terendah untuk hampir tiga tahun. Hal itu mengingat pelaku pasar khawatir terhadap ekonomi China. Sentimen itu juga mendorong obligasi naik dan yen bergerak fluktuaktif karena dianggap sebagai investasi aman.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,7 persen di awal perdagangan sehingga mendorong ke level terendah sejak 8 September. Indeks saham Jepang Nikkei jatuh 2,4 persen. Diikuti indeks saham Topix melemah tiga persen pada pukul 09.30 waktu Tokyo yang didorong sektor saham industri kesehatan.

Pelemahan juga terjadi di bursa saham Australia. Indeks saham Australia/ASX 200 turun 2,7 persen. Indeks saham Selandia Baru/NZX 50 susut 1 persen. Sementara itu, bursa saham Korea Selatan tutup hingga Rabu. Bursa saham Taiwan tutup karena angin topan.

Bursa saham Asia melemah ini dipicu dari kecemasan investor terhadap ekonomi China. Hal itu mengingat keuntungan industri perusahaan jatuh 8,8 persen pada Agustus.

Ditambah sentimen negatif lainnya Glencore Plc, menjadi salah satu korban terbaru dari perlambatan ekonomi di Asia.? Di tengah gejolak terjadi, bank sentral Amerika Serikat (AS) berencana tetap menaikkan suku bunga pada 2015. Langkah bank sentral AS itu dapat memukul investasi di negara berkembang.

“Bakal ada turbulensi berlanjut di pasar. Dalam waktu dekat, kita perlu berhati-hati. Ekonomi dunia melambat dan ada risiko di luar sana,” tutur John Carey, Manajer Investasi Pioneer Invesment Management Inc, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (29/9/2015).

Tak hanya bursa saham Asia tertekan. Pada awal pekan ini, bursa saham Amerika Serikat tertekan lantaran dipicu dari rilis data ekonomi China dan sektor saham bioteknologi merosot. (Ahm/Zul)

 

Sumber : Liputan 6