PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Harga Minyak Jatuh, Bursa Asia Dekati Level Terendah Sejak 2011

Orang tercermin dalam papan yang menampilkan rata-rata Nikkei di Tokyo, Jepang,  Jumat,  (10/7/ 2015). Nikkei adalah  indeks pasar saham untuk Bursa Saham Tokyo. (REUTERS/Thomas Peter)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Bursa saham Asia meluncur ke level terendah sejak 2011 di awal pekan ini menyusul data ekonomi AS dan harga minyak merosot. Pelemahan harga minyak itu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda sehingga memicu kekhawatiran lebih lanjut terhadap bursa saham global.

Indeks saham MSCI Asia Pacific merosot 1,3 persen pada pukul 10.02 waktu Tokyo. Pelemahan itu didorong indeks saham Jepang Nikkei susut 1,9 persen.

Indeks saham Australia/ASX 200 turun 0,9 persen. Indeks saham Korea Selatan Kospi merosot 0,6 persen, indeks saham Selandia Baru/NZX 50 tergelincir 1,7 persen sehingga mendorong ke level terendah sejak 15 Desember.

Indeks saham acuan MSCI di luar Jepang telah melemah 10,5 persen dalam dua minggu. Angka itu terendah sejak 2011. Pelemahan bursa saham Asia di awal pekan ini dipicu data ekonomi AS kurang menggembirakan.

Penurunan tak terduga pada penjualan ritel dan hasil produksi industri pada Desember 2015. Hal itu mengindikasikan kalau pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal IV 2015.

Laba kuartal IV perusahaan di AS pun diperkirakan menurun lebih dari empat persen. Ini akan menjadi penurunan berturut-turut dalam dua kuartal.

Selain itu, harga minyak juga makin tertekan. Harga minyak anjlok enam persen pada Jumat pekan ini. Hal itu mendorong harga minyak melemah 21 persen sejak awal tahun.

Di awal pekan ini, harga minyak berjangka Brent susut lebih dari tiga persen di bawah US$ 28 per barel. Angka ini terendah sejak 2003. Harga minyak telah menurun tajam sejak pertengahan 2004 didorong permintaan melambat karena perlambatan ekonomi China, dan peningkatan produksi minyak di AS. Kini pasokan minyak akan bertambah seiring sanksi internasional terhadap Iran sudah dicabut.

“Fokus terbesar adalah harga minyak. Negara produsen minyak pun harus menjual aset mereka untuk membiayai kesenjangan mereka. Mereka pun menjual saham di seluruh dunia,” ujar Norihiro Fujito, Analis Senior Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, seperti dikutip dari laman Reuters, Senin (18/1/2016).

Di pasar uang, yen sedikit berubah terhadap dolar AS. Yen berada di posisi 117,14 per dolar. Sedangkan euro berada di US$ 1.0908. Yuan naik 0,4 persen ke level 6,58 per dolar AS. (Ahm/Ndw)

 

 

Sumber : Liputan 6