PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Harga Komoditas Melemah, Bursa Saham Asia Tertekan

Orang tercermin dalam papan yang menampilkan rata-rata Nikkei di Tokyo, Jepang,  Jumat,  (10/7/ 2015). Nikkei adalah  indeks pasar saham untuk Bursa Saham Tokyo. (REUTERS/Thomas Peter)Jakarta – Bursa saham Asia tertekan di awal pekan ini menyusul bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada akhir pekan lalu. Akan tetapi, penurunan terbatas lantaran investor kurang berminat masuk ke bursa saham karena libur Natal dan Tahun Baru.

Indeks saham MSCI Asia Pacifik di luar Jepang cenderung mendatar. Indeks saham Jepang Nikkei tergelincir 0,9 persen. Indeks saham Australia melemah 0,5 persen. Sementara itu, indeks saham Korea Selatan Kospi naik 0,2 persen dan indeks saham Selandia Baru menguat 0,3 persen.

Bursa saham melemah di Sydney dan Tokyo telah memperpanjang penurunan dalam empat sesi perdagangan.

Ada pun sentimen bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga pertama kali dalam hampir satu dekade, investor mulai menimbang prospek tahun depan.

Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global seiring ekonomi China melambat mulai mereda dengan nanti ada data ekonomi terbaru. Namun perkembangan harga komoditas juga masih dicermati.

“Saya sedikit pesimistis terhadap pertumbuhan global. Harga minyak juga tetap menjadi bagian penting pada awal tahun,” ujar Evan Lucas, Analis IG Ltd seperti dikutip dari laman Bloomberg, Senin (21/12/2015).

Tekanan terjadi di awal sesi perdagangan juga dipengaruhi bursa saham AS melemah pada akhir pekan lalu. Indeks saham Dow Jones susut 2,1 persen. Indeks saham S&P 500 melemah 1,7 persen dan indeks saham Nasdaq merosot 1,59 persen.

Di pasar keuangan, dolar AS cenderung melemah terhadap yen di kisaran 121,30. Sedangkan euro sedikit berubah ke level US$ 1,0863.

Harga minyak masih tertekan di awal pekan ini. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk Januari turun 0,4 persen menjadi US$ 34,55 per barel di New York Mercantile Exchange.

“Masalah yang mempengaruhi bursa saham dan ekonomi global masih dari harga komoditas tertekan. Harga komoditas melemah, ditambah utang perusahaan tinggi dan bursa saham negara berkembang masih berjuang,” ujar Chief Investment Officer RMG Wealth Management Stewart Richardson. (Ahm/Ndw)

 

 

Sumber : Liputan 6