PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Harga Emas Naik Seiring Pelemahan Dolar AS dan Vote Swiss

Ilustrasi Harga Emas

PT. Rifan Financindo Berjangka, New York – Harga emas dunia naik sedikit bertengger di atas US$ 1.200 per ounce seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), dipicu dilansirnya data yang menunjukkan penurunan kepercayaan konsumen, mengimbangi angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.

Melansir laman Reuters, Rabu (selasa), harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi US$ 1.202,10 per ounce, masih tidak jauh dari level tertinggi dalam tiga minggu sebesart US$ 1.207,70 per ounce yang dicapai pada Jumat pekan lalu.

Sementara harga emas berjangka AS menetap di level US$ 1.197,1 per ounce atau naik 0,1 persen.

Pasar emas tidak memiliki arah menjelang libur Thanksgiving AS dan adanya referendum Swiss terkait cadangan emas Bank Sentral ini.

Harga emas naik setelah indeks dolar turun 0,3 persen terhadap sekeranjang mata uang utama, yang terjadi sesaat usai data Produk Domestik Bruto (PDB) AS dilansir.

Departemen Perdagangan AS menaikkan estimasi produk domestik bruto tahunan menjadi 3,9 persen dari 3,5 persen yang dilaporkan bulan lalu.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters telah memperkirakan pertumbuhan hanya akan mencapai 3,3 persen.

Angka-angka ekonomi yang kuat bisa mendorong Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga lebih awal.

Di sisi lain, Di Swiss, sebuah partai sayap kanan Swiss mengeluarkan suara yang bertujuan untuk mencegah Swiss National Bank membongkar kepemilikan emas dan mewajibkan untuk menahan setidaknya 20 persen dari aset tersebut, naik dibandingkan dengan bulan lalu sebesar 8 persen.

Sementara jajak pendapat menunjukkan bahwa dukungan di antara pemilih Swiss untuk inisiatif ini memudar, suara ‘ya’ bisa meningkatkan harga emas dalam jangka panjang, kata para pedagang. Harga spot emas turun ke level terendah 4-1 / 2-tahun awal bulan ini.

“Jika itu terjadi, kita bisa melihat reaksi singkat dalam harga emas, tapi itu tidak seperti bank sentral lainnya akan mengikuti, karena itu bukan keputusan bank sentral,” kata analis Natixis Bernard Dahdah. (Nrm)

 

Sumber : Liputan 6