PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Bursa Saham Asia Melemah Kena Imbas Wall Street

Bursa saham Asia bergerak menguat dengan indeks saham acuan MSCI Asia Pacific naik 0,5% pada Senin pekan ini.

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Bursa saham Asia tergelincir pada perdagangan saham menjelang akhir pekan ini seiring kecemasan pelaku pasar terhadap harga komoditas seiring harga tembah dan minyak mencatatkan tren menurun. Ditambah perhatian pelaku pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) setelah rilis data ekonomi AS.

Indeks saham MSCI Asia Pacific turun 0,1 persen pada pukul 09.36 waktu Tokyo. Sektor saham teknologi dan tambang mendorong penurunan indeks saham 0,9 persen dalam sepekan. Indeks saham acuan utama itu melemah juga dipicu indeks saham Jepang Topix tergelincir 0,2 persen. Indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,3 persen.

Harga komoditas cenderung tertekan juga mempengaruhi pelaku pasar. Harga tembaga melemah 0,3 persen menjadi US$ 5,254,50 per metrik ton, dan angka ini level terendah sejak Juli 2009. Goldman Sachs memprediksi harga akan turun 15 persen pada akhir tahun 2015 seiring permintaan China terhadap logam melambat menambah tekanan terhadap tembaga. Sementara itu, harga minyak Brent naik 0,4 persen ke level US$ 55,47 setelah menyentuh level terendah sejak 2 April pada perdagangan Kamis pekan ini.

Bursa saham Asia pun cenderung tertekan seiring sentimen global ditambah harga komoditas terutama logam melemah. Tak hanya itu, dolar AS kembali bangkit juga menambah tekanan terhadap harga komoditas. Pelaku pasar pun kini fokus terhadap kebijakan bank sentral AS/ The Federal Reserve setelah rilis data ekonomi.

“Dengan dolar AS cenderung meningkat seiring The Federal Reserve bersiap untuk menaikkan suku bunga. Hal itu juga dapat menekan harga komoditas. Prospek pendapatan perusahaan di AS juga relatif tenang seiring dolar AS. Kemungkinan tidak akan melihat reli besar-besar dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Angus Gluskie, Direktur White Funds Management Ltd seperti dikutip dari laman Bloomberg, Jumat (24/7/2015).

Sebelumnya pemerintah AS merilis data klaim pengangguran turun 26 ribu menjadi 255 ribu. Angka itu terendah sejak November 1973. Data tenaga kerja dan perumahan yang membaik telah mendukung pandangan kalau bank sentral AS akan menaikkan suku bunga. Bank sentral AS kemungkinan akan menaikkan pada awal September, dan ini mendukung kenaikan dolar AS. (Ahm/Igw)

 

 

Sumber : Liputan 6