PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Bursa Saham Asia Bervariasi di Awal Sesi

(Foto: Reuters)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Bursa saham Asia mendekati level terendah dalam empat tahun dan harga minyak? berada di posisi terendah dalam 12 bulan. Tekanan terhadap bursa saham dan harga minyak itu didorong kecemasan pelaku pasar terhadap ekonomi China.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,3 persen pada awal perdagangan tetapi masih mendekati level terendah dalam empat tahun. Indeks saham acuan ini turun lebih dari 8 persen sejak awal 2016.

Indeks saham Jepang Nikkei susut 1,3 persen usai libur di awal pekan ini. Indeks saham Jepang Topix melemah 1,5 persen. Akan tetapi, indeks saham Australia naik untuk pertama kali sejak awal tahun dengan menguat 0,3 persen.

Indeks saham Selandia Baru/NZX 50 dan indeks saham Korea Selatan/Kospi menguat 0,6 persen. Sejumlah bursa saham Asia ini menguat didukung sektor saham bank dan teknologi. Sedangkan sektor saham tambang dan energi tertekan seiring harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) berada di level terendah di US$ 31 per barel.

Tekanan terhadap harga minyak dan kekhawatiran ekonomi China menjadi risiko terhadap prospek ekonomi global. Sentimen itu mempengaruhi pasar.

“Tepatnya khawatir terhadap China. Ini masih terlalu awal kalau kita sudah menemukan level terendah hingga kita melihat kestabilan mata uang China yuan dan melihat kepercayaan diri pelaku pasar terhadap ekonomi global,” kata Shane Oliver, Kepala Riset AMP Capital Investors Ltd, seperti dikutip dari laman Bloomberg, Selasa (12/1/2016).

Sementara itu, Angus Nicholson, Analis IG Ltd menyatakan, aksi jual besar-besaran yang terjadi kemarin dapat mengangkat indeks saham dalam jangka pendek. Apalagi melihat kondisi bursa saham AS menguat sebelum penutupan bursa saham.

Di pasar keuangan, dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya. Euro diperdagangkan di level US$ 1,0857 setelah tergelincir 0,6 persen pada awal pekan ini. Dolar Australia? merosot 0,2 persen.

Harga minyak jenis WTI berada di level US$ 31,19 per barel. Sedangkan harga minyak Brent susut ke level US$ 31,17 per barel, dan terendah dalam 12 tahun. (Ahm/Igw)

 

 

Sumber : Liputan 6