PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Bursa Asia Tertekan Prospek Ekonomi China

(Foto: Reuters)

PT. Rifan Financindo Berjangka, Sydney – Saham-saham di kawasan Asia Pasifik (Bursa Asia) merosot dengan indeks patokan regional turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan Bursa Asia adalah prospek ekonomi China yang diperkirakan akan mengalami penurunan yang cukup dalam.

Mengutip Bloomberg, Kamis (9/7/2015), Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,4 persen menjadi 139,13 pada pukul 09.01 waktu Tokyo, Jepang.

Regulator bursa China melarang pemegang saham utama, eksekutif dan direktur perusahan untuk menjual kepemilikan sahamnya untuk periode enam bulan. Langkah tersebut dilakukan untuk membendung penurunan bursa Saham di China.

Dalam beberapa hari terakhir, aksi jual di bursa saham China telah mencapai lebih dari US$ 3 triliun. Hal tersebut terjadi karena adanya ketakutan dari para investor akan perlambatan ekonomi di negara tersebut.

“Pemerintah China sedang berupaya untuk mencari jalan yang terbaik untuk mendukung pertumbuhan kembali pasar modal,” jelas Fund Manager Nikko Asset Management NZ Ltd, Auckland, Selandia Baru, James Lindsay.

Ia melanjutkan, aksi jual di bursa China tersebut juga mempengaruhi pasar lain. Tak hanya pasar saham di beberapa negara di Asia yang mengalami penurunan, pasar saham di Amerika (Wall Street) pun juga terimbas. Bahkan pasar komoditas pun juga ikut mengalami penurunan.

Indeks Standard & Poor 500 turun 1,7 persen menjadi 2.046,88 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2015), pukul 4 sore waktu New York, AS. Angka tersebut merupakan angka penutupan terendah sejak 11 Maret 2015 lalu.

Ketakutan investor menjadi bertumpuk. Semula investor hanya melihat krisis yang sedang terjadi di Yunani sebagai ancaman pasar modal. Namun dengan apa yang terjadi di China tersebut maka ketakutan investor bertambah.

Shanghai Composite Index, yang merupakan indeks patokan di bursa China, merosot 5,9 persen dan berada di level terendah dalam tiga bulan terakhir pada perdagangan kemarin. Hal tersebut terjadi karena pemerintah negara tersebut tak mampu meredam kecemasan dari investor. (Gdn/Nrm)

 

Sumber : Liputan 6