PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Bursa Asia Menguat Jelang Putusan Bank Sentral Jepang

(Foto: Liputan6.com)

PT. Rifan Financindo Berjangka, Singapura – Bursa Asia kembali menguat untuk kedua kalinya pada pekan ini menyusul aksi para investor yang kini tengah menanti keputusan dari kebijakan Bank Sentral Jepang. Penguatan sebelumnya terjadi setelah Bank Sentral Amerika memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini namun akan dilakukan secara bertahap.

Melansir laman Bloomberg, Jumat (19/6/2015), indeks MSCI Asia Pasifik menguat 0,3 persen ke level 146,91 pada perdagangan pukul 9:01 waktu Tokyo, Jepang. Meskipun menguat, namun jika dihitung dalam satu pekan maka belum bisa menutupi pelemahan 0,8 persen.

Indeks saham Topix Jepang menguat 0,9 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,6 persen. Begitu pula dengan Indeks S&P/ASX 200 Australia yang meningkat 0,2 persen.

Senada, indeks NZX 50 Selandia Baru yang menguat 0,4 persen. Sementara itu, indeks saham Hang Seng menguat 0,5 persen di akhir perdagangan kemarin.

Bursa Asia menguat bersama dengan peningkatan saham-saham di Amerika Serikat. Indeks Nasdaq naik 1,34 persen menjadi 5.132,95, cetak rekor tertinggi sejak 10 Maret 2010. Indeks S&P 500 naik 1 persen menjadi 2.120,97, menguat dalam tiga hari berturut-turut. Indeks Russell 2000 naik 1,3 persen ke level tertinggi. sedangkan indeks Dow Jones naik 180,1 poin atau 1 persen menjadi 18.115,84.

Pertemuan Bank Sentral Jepang (BOJ) terkait kebijakannya akan berakhir pada Jumat waktu setempat. Sebagian besar ekonom memandang Bank Sentral Jepang akan memperluas dana stimulusnya setelah Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan nilai tukar yen menyesuaikan inflasi dan perdagangan dengan negara lain telah pulih sejak 2008.

“Yang dinanti pasar kali ini adalah apakah yen akan terus melemah dan apa komentar para petinggi bank guna mendorong nilai tukar yen?” kata Fund Manager di Kapstream Capital, Steve Goldman.

Dia mengatakan, perekonomian Jepang masih membutuhkan lebih banyak stimulus pasalnya ekonominya belum tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. (Sis/Gdn)

 

Sumber : Liputan 6