PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Author Archives: rifan financindo

Harga Emas Rally Dengan Powell Menyebut Ketidakpastian & Cenderung Dovish

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas naik tinggi dan mendekati ketinggian harian pada awal perdagangan sesi Amerika Serikat pada hari Rabu kemarin. Dalam pidatonya di depan Wakil Rakyat AS, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyebutkan beberapa keprihatinan mengenai ekonomi AS yang oleh para trader dipandang “dovish” terhadap kebijakan moneter.

Emas berjangka bulan Agustus terakhir diperdagangkan naik $7.20 per ons pada $1,407.90. Harga perak Comex bulan September terakhir naik $0.128 per ons pada $15.27.

Dalam text nya Powell mengatakan sejak pertemuan FOMC bulan Juni, ketidakpastian, termasuk ketegangan perdagangan dunia, pertumbuhan global dan inflasi yang sangat rendah, terus membayangi outlook ekonomi AS dan kondisi ini tidak membaik. Dia berkata bahwa outlook ekonomi AS adalah solid, namun prospek bagi perekonomian negara utama dunia lainnya mengkuatirkan. Pasar membaca pernyataannya ini sebagai “dovish” atas kebijakan moneter AS, yang pada gilirannya dengankuat menunjukkan bahwa the Fed akan memangkas tingkat bunga secepatnya dan kemungkinan pada bulan ini. Ini adalah skenario yang “bullish” bagi pasar metal.

Pasar saham Asia dan Eropa kebanyakan melemah di dalam perdagangan yang lebih sepi semalam. Indeks saham AS mengarah turun secara moderat pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai.

Hal kunci diluar pasar metal adalah naiknya harga minyak mentah Nymex dan diperdagangkan disekitar $59.00 per barel. Indeks dolar AS turun dan mendekati kerendahan harian setelah pernyataan Powell yang telah disiapkan sebelumnya dirilis.

Secara tehnikal, obyektif kenaikan harga emas adalah menembus “resistance” yang solid di $1,442.90 setelah melewati $1,420 dan kemudian $1,425.00. Sedangkan obyektif penurunan harga emas adalah menembus “support” yang solid di $1,384.70 setelah melewati $1.400.00 dan kemudian $1,391.80. Rifanfinancindo.

 

 

Sumber : Vibiznews

Harga Emas Tumbang, Terendah Selama Seminggu

Rifan Financindo

Rifan Financindo – Harga emas kembali tergelicir pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Bahkan penurunan ini menjadi yang terendah dalam satu minggu terakhir.

Mengutip CNBC, Rabu (10/9/2019), melemahnya harga emas ini karena dolar AS terus menguat imbas ekspektasi penurunan suku bunga yang kurang agresif oleh Federal Reserve bulan ini. Sementara investor masih menunggu pernyataan Jerome Powell tentang kebijakan moneternya.

Harga emas di pasar spot turun 0,4 persen menjadi USD 1,390.21 per ounce. Bahkan sempat menyentuh USD 1,386.11 per ounce, diamana ini adalah yang terendah sejak 2 Juli.

Sementara untuk harga emas berjangka AS turun 0,5 persen menjadi USD 1,392.50 per ounce.

“The Fed yang kurang dovish ditambah data lapangan pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan dan meningkatnya optimisme tentang meredanya tensi perang dagang AS – China telah memperkuat dolar, menyeret harga emas,” kata Jeff Klearman, manajer portofolio di GraniteShares.

Pidato Gubernur The Fed
Menurutnya, pernyataan Gubernur Bank Sentral AS sebelum kongres menjadi kunci pergerakan emas ke depannya.

“Jika Powell mengkonfirmasi pandangan dovish, kita akan melihat beberapa pelemahan dolar dan menaikman harga emas; imbal hasil obligasi juga akan baik1, ” kata analis Saxo Bank Ole Hansen.

Ekspektasi pasar akan penurunan 25 basis poin berada pada 98 persen, dengan peluang penurunan 50 basis poin berkurang menjadi 5,9 persen dari 25 persen pada minggu lalu. Bahkan kini investor berpikir bahwa Fed tidak akan memangkas suku bunga pada bulan September.

Penguatan dolar saat inu berada di angka tertinggi selama tiga minggu terakhir versus beberapa mata uang utama. Hal ini didukung juga oleh berita bahwa Amerika Serikat dan China akan memulai kembali perundingan perdagangan minggu ini.

Selain itu, cadangan konsumen emas China melonjak menjadi USD 87,27 miliar dari USD 79,83 miliar pada akhir Mei. Saat ini China menjadi konsumrn logam mulia terbesar di dunia. Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Tergelincir karena Data Ekonomi AS Membaik

PT Rifan Financindo

 

PT Rifan Financindo – Harga emas melemah tipis pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta) karena meningkatnya ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) tidak akan agresif memangkas suku bunga di akhir bulan ini. Pandangan tersebut membuat nilai tukar dolar AS menguat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang bertransaksi menggunakan mata uang lainnya.

Mengutip CNBC, Selasa (9/7/2019), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 1.396,59 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS turun 0,1 persen menjadi USD 1.398,50 per ounce.

Dengan adanya laporan tenaga kerja yang kuat maka taruhan pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin telah turun dari semula 30 persen menjadi hanya 2 persen,” jelas analis INTL FCStone, Edward Meir.

“Fakta bahwa proyeksi penurunan suku bunga kemungkinan besar tidak akan terjadi menjadi faktor yang membuat harga emas turun atau merugi,” tambah dia.

Laporan data tenaga kerja yang lebih baik pada Jumat lalu mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga acuan yang besar pada pertemuan yang akan digelar pada 30-31 Juli dan mengangkat nilai tukar dolar AS ke level tertinggi dalam 3 pekan.

Namun sebagian besar analis dan ekonom masih memperkirakan bahwa the Fed akan memangkas suku bunga dengan besaran yang lebih kecil yaitu hanya seperempat persen atau 25 basis poin. Hal tersebut mengingat data tenaga kerja saja yang cukup baik tetapi data ekonomi yang lain masih mengalami tekanan.

Pidato Jerome Powell
Saat ini, pelaku pasar tengah menunggu pidato dari Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell di Kongres AS tentang proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Pidato tersebut akan dilakukan pada tengah pekan ini.

Pidato tersebut akan menjadi petunjuk bagi pelaku pasar untuk memperkirakan prospek jangka pendek dan juga rencana kebijakan moneter Bank Sentral AS.

Harga emas sempat menyentuh level USD 1.438,63 per ounce untuk pertama kalinya dalam enam tahun pada bulan lalu. Hal tersebut didorong oleh ekspektasi penurunan tingkat bunga the Fed

“Ketegangan yang berjelanjutan di Iran dan berita utama mengenai tindakan yang dilakukan oleh Bank Sentral di seluruh dunia menjadi dukungan bagi harga emas untuk melonjak,” jelas analis High Ridge Futures, David Meger.

Bank Sentral China meningkatkan cadangan emas mereka selama tujuh bulan berturut-turut pada Juni. China adalah konsumen logam mulia terbesar di dunia. PT Rifan Financindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Harga Emas Diprediksi Tembus USD 1.400 per Ounce di Akhir Tahun

Rifanfinancindo

 

Rifanfinancindo – Harga emas terpukul cukup keras pada perdagangan Jumat lalu karena data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dibandingkan dengan prediksi analis.

Dengan adanya data tenaga kerja yang lebih baik tersebut, ekspektasi bahwa Bank Sentral AS atau the Federal reserve (the Fed) akan memangkas suku bunga 50 persen pun luruh. Saat ini ekonom dan analis tengah menghitung ulang.

“Sekarang terlihat semakin kecil kemungkinan bahwa the Fed akan mulai memotong suku bunga pada bulan ini seperti yang diharapkan pasar. Kami masih berpikir the Fed akan memangkas suku bunga ketika ekonomi melambat,” jelas Andrew Hunter, ekonom dari Capital Economics U.S seperti dikutip dari Kitco, Senin (8/7/2019).

“Kemungkinan besar mereka akan mulai pada bulan September daripada Juli, ”tambah Hunter.

Dengan adanya perkiraan baru dari para ekonom ini berdampak jangka pendek terhadap harga emas. Penguatan dolar AS membawa harga emas dan perak turun sekitar 2 persen pada Jumat lalu.

Namun secara jangka panjang, harga emas masih akan tempus angka USD 1.400 per ons karena adanya kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global.

Oleh karena itu, beberapa analis melihat bahwa pelemahan yang terjadi pada Jumat lalu akan pulih kembali pada perdagangan pekan ini.

“Kami dengan senang hati mengulangi perkiraan kami di akhir 2019 untuk harga emas akan melampaui USD 1.400 per ounce, ”kata Kieran Clancy analis komoditas dari Capital Economics U.S.

Perdagangan Jumat Lalu
Harga emas turun 2 persen pada perdagangan Jumat dan merupakan penurunan mingguan pertama dalam tujuh pekan. Penurunan ini terjadi setelah data menunjukkan bahwa pertumbuhan pekerjaan AS membaik untuk periode bulan Juni.

Dengan adanya data ekonomi yang membaik tersebut, ekspektasi adanya penurunan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) mereda dan hal tersebut menekan harga emas.

Mengutip CNBC, Sabtu (6/7/2019), harga emas di pasar spot turun 1,2 persen menjadi USD 1.398,39 per ounce setelah mencapai titik terendah di USD 1.386,52 pada sesi sebelumnya. Harga logam mulia ini mengalami penurunan mingguan sekitar 1 persen, yang bisa menjadi yang terbesar sejak pertengahan April.

Sedangkan harga emas berjangka AS turun 1,4 persen menjadi USD 1.400,90 per ounce.

Angka nonfarm payrolls meningkat 224 ribu pekerjaan pada bulan lalu, angka terbesar dalam lima bulan terakhir. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan data nonfarm payrollshanya naik 160 ribu pekerjaan saja.

“Data pekerjaan AS mendorong semua tekanan pada harga emas sekarang. Angka-angka penggajian menghancurkan semua harapan. Itu dapat mengurangi urgensi untuk pemotongan Fed pada bulan Juli, ”kata Chris Gaffney, president world markets TIAA Bank.

Menambah tekanan pada harga emas, dolar AS melonjak ke puncak tertinggi dalam dua minggu terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia. Rifanfinancindo.

 

 

Sumber : Liputan 6

Perdagangan Sepi, Harga Emas Turun Tipis

Rifan Financindo

 

Rifan Financindo – Harga emas turun pada perdagangan Kamis karena investor mengunci keuntungan sebelum keluarnya data pendapatan non-pertanian AS. Selain itu, reli di pasar saham juga menghentikan penguatan harga emas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Mengutip CNBC, Jumat (5/7/2019), harga emas di pasar spot turun 0,3 persen ke level USD 1.414,95 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS turun 0,2 persen ke level USD 1.417,70 per ounce.

“Investor sudah sangat lama memegang emas, tetapi masih belum terdorong ke level tertinggi yang baru,” kata analis ABN AMRO Georgette Boele.

“Sebenarnya saat ini investor tengah merindukan berita yang sangat positif untuk mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi,” tambah dia.

Dengan bursa saham AS ditutup karena libur tanggal merah, pasar emas menjadi kurang cair dan investor lebih fokus kepada data penghasilan non-pertanian di AS. Data tersebut akan menjadi indikator penentuan penurunan suku bunga Bank Sentral AS pada pertemuan Juli nanti.

Ekonom memperkirakan pendapatan non-pertanian meningkat 160 ribu pada Juni dibandingkan dengan 75 ribu pada Mei.

Di sisi teknis, harga emas di pasar spot menguji level resistance di USD 1.435 per ounce, yang mengarah ke kenaikan di kisaran USD 1.443 – USD 1.456.

Perdagangan Sebelumnya
Harga emas stabil didorong reli bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street. Hal ini membuat data tarik komoditas logam berkurang.

Sementara itu, kekhawatiran pertumbuhan global dan prospek kebijakan moneter yang dovishterus mendukung harga emas.

Harga emas di pasar spot stabil di posisi USD 1.416,98 per ounce pada pukul 1.33 PM EDT (17.33 GMT). Sebelumnya harga emas sentuh posisi USD 1.435,99 yang merupakan level tertinggi sejak 25 Juni. Harga emas berjangka AS naik satu persen ke posisi USD 1.420,90 per ounce.

Bursa saham AS menguat dengan masing-masing indeks saham menguat ke posisi tertinggi. Hal ini seiring harapan tumbuh kalau the Federal Reserve atau bank sentral AS lebih lembut karena serangkaian data memberikan lebih banyak bukti perlambatan ekonomi.

Harga emas berbalik arah setelah bursa saham AS dibuka, tetapi kemudian stabil. “Harga emas memiliki kinerja cukup kuat dalam dua hari terakhir dan penurunan ini hanya ikuti arus,” ujar Analis TD Securities, Daniel Ghali, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (4/7/2019). Rifan Financindo.

 

Sumber : Liputan 6