PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA

Ada Sinyal Stimulus Bank Sentral Eropa, Bursa Asia Menguat

(Foto: Reuters)

 

PT. Rifan Financindo Berjangka, Tokyo – Bursa saham Asia menguat menjelang akhir pekan ini seiring bank sentral Eropa mengisyaratkan kesiapannya untuk mengambil langkah lebih lanjut untun menopang ekonomi Eropa. Selain itu, pelaku pasar juga fokus untuk data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Indeks saham MSCI Asia Pacific di luar Jepang naik 0,1 persen. Sementara itu, indeks saham Jepang mendaki 0,1 persen. Diikuti indeks saham Jepang Topix menguat 0,5 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,3 persen, indeks saham Australia naik 0,2 persen, dan indeks saham Selandia Baru melemah 0,2 persen.

Sentimen positif dari bursa saham Asia ini juga mengikuti bursa saham AS cenderung menguat meski tipis. Hal itu lantaran pelaku pasar masih khawatir terhadap ekonomi China. Akan tetapi, penguatan bursa saham AS itu ditopang dari bank sentral Eropa memangkas proyek pertumbuhan dan inflasi pada Kamis pekan ini. Selain itu memberikan sinyal mengenai kemungkinan masalah lebih lanjut dari China, dan membuka kelonggaran moneter dengan stimulus 1 triliun Euro.

Pimpinan bank sentral Eropa Mario Draghi mengatakan, program pembelian obligasi dapat berjalan setelah September 2016, dan bank dapat menyesuaikan ukuran dan komposisinya.

“Sepertinya bank sentral Eropa sedang mempersiapkan stimulus seperti memotong proyeksi, pertumbuhan dan ketidakpastian ekonomi yang muncul meningkat. Mungkin ini menunjukkan bank sentral Eropa harus mengambil tindakan,” ujar Masahiro Ichikawa, Analis Mitsui Sumitomo Asset Management seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (4/9/2015).

Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data tenaga kerja AS pada Jumat pekan ini. Ini akan memberikan sinyal terhadap kebijakan bank sentral AS soal suku bunga.

“Sejumlah data tenaga kerja lemah mungkin dapat mematahkan potensi kenaikan suku bunga pada September,” ujar Jasper Lawler, Analis CMC Markets Plc.

Akan tetapi banyak investor melihat bank sentral AS akan menahan diri untuk menaikkan suku bunga pada 16-17 September. Hal itu mengingat pasar keuangan tidak begitu stabil dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah kalangan menilai kalau ada kepastian terhadap kenaikan suku bunga dapat membangkitkan keyakinan terhadap ekonomi global. Akan tetapi di sisi lain juga dapat menyakiti aset berisiko terutama di negara berkembang. (Ahm/Gdn)

 

 

Sumber : Liputan 6